“ORANG BENAR VS ORANG FASIK” : Renungan Jumat 15 Desember 2023

0
1011

Hari biasa Pekan ke II Adven (U).

Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11:16-19

Tuhan sangat mencintai kita semua. Cintanya itu kita rasakan hingga hari ini. Itu sebabnya, Ia selalu hadir dalam kehidupan kita. Entah hadir melalui orang tua, anak, sanak saudara, kerabat, dan lain-lain. Tuhan selalu hidup bersama kita dan menyertai kita sampai akhir zaman. Namun nyatanya, kita seringkali melukai hatiNya dengan tidak menaati perintah-perintahNya.

Dalam bacaan pertama Tuhan mengajar dan memberikan perintah-perintah kepada manusia. Pengajaran dan perintahNya menjadi petunjuk yang berfaedah. Jika kita melaksanakan ajaran dan perintahNya, maka kita akan mengalamai kedamaian, kesejahteraana dan berkelimpahan di dalamNya. Kedamaian dirasakan seperti sungai yang tak pernah kering dan kesejahteraan seperti gelora laut  yang tidak pernah berhenti, serta keturunan akan bertambah banyak dan mereka tidak akan dilenyapkan.

Pemazmur turut memberikan perbedaan tentang jalan orang jujur dan jalan orang fasik. Jalan orang jujur menuju kepada kebahagiaan. Orang jujur adalah orang yang tidak mendengar nasihat orang fasik, terhindar dari jalan menuju pada dosa, terhindar dari kumpulan para pencomooh. Bacaan pertama menunjukkan jalan orang jujur dengan sangat riil, yakni menaati setiap ajaran dan perintah Tuhan dengan setia. Sedangkan jalan orang fasik merupakan jalan yang mengantar orang menuju kepada kebinasaan. Mereka (orang-orang fasik) bagaikan sekam yang ditiup angin dan tidak akan bertahan dalam penghakiman.

Penginjil Matius mengantar kita pada sebuah pengenalan tentang orang-orang fasik yang digambarkan olehpemazmur. Matius mengisahkan bahwa orang-orang fasik adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka sangat suka menyalahkan orang lain dengan untaian kata-kata. Misalnya Yohanes disebut sebagai orang yang kerasukan setan dan Yesus sebagai seorang pelahap, peminum dan bersahabat dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Hal ini dilakukan untuk mendapat penghormatan dari orang lain. Mereka seringkali menganggap diri lebih benar dari pada orang lain. Akan tetapi sebaliknya, yakni mereka tidak menaati ajaran dan perintah Tuhan. Berbeda dengan Yesus dan Yohanes, yakni mereka menaati setiap ajaran dan perintah Tuhan dengan setia. Hal itu telah dibuktikan oleh Yesus dan Yohanes melalui perbuatan-perbuatan mereka. Dengan demikian, maka hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan mereka.

Fr. Liberatus Lamere

“Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan(Mzm. 1:6).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga Engkau menuntun kami, sehingga kami selalu berada dalam jalan kebenaran-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini