“SIKAP MENDENGAR, PENTINGKAH?”: Renungan, Kamis 14 Desember 2023

0
1023

Pw S. Yohanes dr Salib, ImPujG (P)

Yes. 41:13-20; Mzm.145:9, 10-11,12-13ab; Mat. 11: 11-15; atau dr Ryubs

Fenomena kehidupan sekarang ini banyak memperlihatkan kesibukan orang dengan pekerjaannya masing-masing. Kesibukan ini ada dalam lingkup ruang yang kecil maupun lingkup ruang yang besar. Tentunya kesibukan ini tidak terlepas dari kegiatan orang untuk memenuhi apa yang menjadi tuntutannya dalam hidup. Misalnya dalam keluarga, Orangtua sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak sibuk membuat tugas sekolah atau tugas kuliah. Tentunya, hal ini sangat baik. Tetapi fenomena ini akan berbahaya jika dalam keluarga kita tidak lagi mempunyai waktu untuk berkumpul bersama, seperti berceritera, saling mendengarkan nasihat, serta keluh kesah yang dialami sepanjang hari. Baik itu anak-anak mendengarkan ceritera orangtuanya ataupun sebaliknya. Jika hal itu terjadi, maka tentulah keluarga itu tidak memiliki pengenalan yang intens satu dengan yang lain.

Injil Hari ini menegaskan betapa pentingnya sikap mendengarkan. Hal ini nampak pada perkataan Yesus, “Siapa bertelinga, hendaknya ia mendengar!”. Mengapa Yesus ingin menegaskannya? Hal ini berkaitan dengan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis dikatakan Yesus sebagai Elia yang akan datang. Sebagaimana Elia adalah nabi, maka Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi utusan Allah yang penuh kuasa untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari Allah. Pesan penting apa yang diwartakan Yohanes? Pesan itu adalah “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat.” Ketika kita bersedia dengan rendah hati untuk mendegarkan pesan ini, maka kita telah mengambil langkah awal yang penting yakni mendengarkan. Mendengarkan berarti menerima dan mengerti pesan itu. Setelah menerima dan mengerti, kita diharapkan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai umat beriman, kita seharusnya bersikap rendah hati untuk mendengarkan orang lain. Namun, sangat disayangkan zaman ini orang lebih suka mendengarkan apa yang ada di media-media sosial (Facebook, Instagram, tiktok) daripada orang-orang yang ada di sekitarnya. Manusia seperti tidak penting lagi, yang terpenting adalah selalu mengikuti berita terbaru di media sosial setiap hari. Sehingga, sikap mendengarkan itu seakan-akan menjadi barang yang sangat mahal. Sungguh ironisnya kehidupan ini! Yang sederhana dijadikan mewah, yang mewah dijadikan sederhana.

Bertolak dari hal ini, apa tanggapan kita sebagai pengikut Kristus terhadap fenomena ini? Pengalaman hidup St. Yohanes dari Salib yang kita peringati hari ini, kiranya dapat menjadikan kita orang-orang yang mampu menghargai sikap untuk mendengarkan orang lain. Belajarlah dari St. Yohanes dr Salib. Kendati dikurung dalam sel biara oleh teman-temannya sendiri, tetapi ia selalu setia memaknai pengalaman itu sebagai suatu kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan dan mendekatkan diri kepadaNya.

Fr. Kristovel Pepende

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 11:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami pendengar sabdaMu yang setia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini