Pw S. Karolus Borromeus, Usk (P).
BcE Rm. 11:1-2a, 11-12, 25-29; Mzm. 93:12-13a, 14-15; Luk. 14:1, 7-11; atau dr RUyubs.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini Gereja secara universal merayakan peringatan St. Karolus Borromeus yang merupakan seorang yang memperhatian orang miskin. Ia rela mengorbankan kepunyaannya dan menjauhi hal-hal duniawi demi pelayanan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memperlihatkan adanya keselamatan juga atas bangsa yang lain. Allah sungguh hadir dalam kehidupan setiap orang. Ia tidak pernah menolak umat-Nya, apa lagi bangsa Israel yang telah dipilih-Nya. Sebaliknya, keterpilihan tersebut membuat diri mereka menjauh dari Allah dengan melakukan pelbagai kesalahan. Dengan demikian, Allah mengangkat derajat bangsa lain untuk membangkitkan kembali kesadaran dan perhatian umat Israel sendiri.
Pengarang Injil Lukas menceritakan kisah Yesus yang masuk dan makan di rumah pemimpin orang-orang Farisi. Tindakan Yesus selalu dipantau oleh orang yang hadir di situ dengan tujuan untuk menduduki tempat terhormat dan Yesus telah mengetahui tujuan mereka. Yesus pun memberikan perumpamaan kepada mereka agar menampilkan sikap yang sopan saat diundang dalam pesta agar diri kita dapat dipandang dan dihormati. Perumpamaan yang nampak keras disampaikan oleh Yesus untuk menyinggung sifat pribadi manusia yang suka untuk menonjolkan diri dalam berbagai kegiatan.
Kehidupan kita sering diperhadapkan dengan keadaan yang silih berganti. Perumpamaan yang disampaikan menjadi teguran bagi kita untuk selalu merendahkan hati di hadapan Tuhan dan sesama. Sebagai manusia, kita memang membutuhkan penghormatan dari orang lain. Namun ketika ingin dihormati, kita pun harus menerima dan memperlakukan mereka sama dengan yang diri kita harapkan. Kebahagiaan yang kita inginkan hendaknya diperbuat kepada sesama di sekitar kita.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diminta untuk berkurban bukan untuk membuat diri kita hilang dan menderita, melainkan untuk memperoleh hidup yang baik bersama dengan sesama. Kehidupan yang baik akan menempatkan diri kita di tempat terhormat dalam diri sesama dan akan dikenangkan sebagai sarana keselamatan yang ditawarkan Tuhan bagi kita semua. Dengan berkurban kita menjadi manusia yang meneruskan karya Tuhan, sesuai yang telah dilaksanakan oleh St. Karolus Borromeus dalam pengurbanannya bagi orang yang menderita. Dengan demikian amanat dan karya Kristus selalu diupayakan untuk kehidupan bersama.
(Fr. Petrus Piterson Kussoy)
“… silahkan duduk di depan. Dengan demikian engkau mendapat kehormatan di mata semua tamu yang lain….”
Marilah berdoa:
Tuhan, berkenalah menuntunku untuk berkorban bagi sesama. Amin











