Hari Biasa (H)
Rm. 6:19-23; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 12:49-53
Seorang bijak pernah berkata: “Saat Anda menyampaikan kebenaran, maka Anda akan menemukan dua reaksi yang berbeda, yang bijak akan merenung dan yang bodoh akan tersinggung”. Dalam bacaan injil hari ini Yesus menyatakan bahwa Ia datang melemparkan api dan mendambakannya untuk tetap menyala. Api sebenarnya yang dimaksud Yesus ini merujuk pada kebenaran sabda Tuhan yang dapat memerdekakan dan menghantar orang pada keselamatan. Api inilah yang mampu menerangi setiap pribadi untuk mencapai kehidupan kekal di surga.
Dalam usaha menerangi orang lain dengan api kebenaran sabda Tuhan, kita akan selalu bertemu dengan dua reaksi yang berbeda yaitu, reaksi orang yang menerima dan menghidupinya dan reaksi orang yang menolak dan menentangnya. Dua reaksi berbeda inilah yang dimaksudkan Yesus tentang kedatanganNya yang bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan. Sebab kebenaran sabda Tuhan akan dipertentangkan dengan yang dipercayai orang fasik sebagai benar. Hal inilah yang pada akhirnya menghantar orang fasik menjadi anggota kecemaran dan kedurhakaan seperti yang dimaksudkan oleh Santo Paulus dalam bacaan pertama.
Yesus tahu bahwa api yang dibawaNya akan mendatangkan pertentangan. Ia tahu bahwa Sabda Kebenaran yang diwartakannya tidak begitu saja dapat diterima oleh semua orang. Ia juga tahu bahwa mereka yang telah dimerdekakan dari jerat dosa dan yang telah menjadi hamba Allah, tidak akan pernah berhenti untuk mewartakan kebenaran tersebut. Karena itu Yesus mendambakan agar api tersebut tidak pernah akan padam dan akan selalu menyala untuk menerangi mereka yang belum bisa menerimaNya.
Dalam kenyataanya, kita sebagai hamba Allah, anak-anak kekasih Allah yang telah dibebaskan dari belenggu dosa dan pencemaran, dipanggil untuk memancarkan api kebenaran tersebut. Api kebenaran sabda Tuhan yang memerdekakan dan yang akan menuntun pada keselamatan kekal. Kita dituntut untuk selalu menjadi terang bagi mereka yang masih dalam kegelapan dosa. Agar dengan demikian, semakin banyak orang dapat dikuduskan dan memperoleh anugerah sebagai anak-anak Allah.
(Fr. Valentinus Helyanan)
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu tetap menyala!” (Luk. 12:49).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, tuntunlah kami dengan terang api cinta kasihMu, agar kami selalu berjalan dalam terangMu dan mampu menyalurkan terangMu itu kepada semua orang yang kami jumpai. Amin.











