Hari Biasa (H).
Yun. 1:1-17; 2:10; MT Yun. 2: 2-4,7: Luk. 10:25-37.
Kisah tentang orang Samaria adalah kisah yang populer dalam Kitab Suci. Tentunya, sebagai umat beriman kita telah membaca dan mendengarkannya secara berulang-ulang kali. Kisah ini menggambarkan kebaikan hati dari seorang Samaria yang tanpa berpikir panjang menolong seorang yang menjadi korban dari para penyamun. Mereka tidak hanya merampoknya habis-habisan melainkan juga memukulnya sampai setengah mati. Bila kita ikuti kisahnya maka kita tahu bahwa sebelum orang Samaria datang dan membantunya, ada seorang imam yang terlebih dahulu melalui jalan tempat orang yang dirampok itu terbaring. Namun, bukan menolongnya, ia malah mengabaikan pria yang malang itu dan berjalan melalui seberang jalan. Selanjutnya ada pula orang Lewi yang berjalan melalui tempat itu. Namun, sama halnya dengan imam tadi, ia hanya melewatinya begitu saja. Hingga orang Samaria itu lewat dan dengan belas kasih ia pun menolong orang yang sedang menderita itu. Luka-lukanya dibalut dan disirami dengan minyak dan anggur, kemudian dibawa dengan keledai ke penginapan untuk dirawat sampai sembuh.
Kisah sederhana tentang kebaikan hati dari seorang Samaria ini mengajak kita melihat ketulusan hati kita akan sesama. Apakah kita punya kepedulian kepada orang lain ketika mereka sementara ada dalam kesusahan. Ataukah kita membiarkan saja karena tidak mau direpotkan atau pun dirugikan? Poin yang perlu kita refleksikan pula adalah bagaimana dalam kehidupan, kita perlu untuk bertindak sebagai orang-orang yang mencerminkan cinta kasih yang berasal dari Bapa. Terkadang di era sekarang status dan jabatan hanya menjadi sebatas status belaka, namun tindakan yang dilakukan tidak seturut dengan apa yang menjadi status dan jabatan tersebut. Banyak orang membanggakan diri, saya ini Katolik dari lahir, atau saya pengikut Kristus, dan lain sebagainya. Namun, kehidupan tidak mencerminkan bahwa saya adalah seorang Katolik, atau saya adalah seorang pengikut Kristus yang sejati. Orang kadang lupa dengan itu sehingga terkadang muncul istilah Katolik KTP atau Kristen KTP dan lainnya. Oleh sebab itu, bacaan Injil yang kita dengar pada hari ini, mengajak kita untuk berlaku atau bertindak sesuai dengan status kita. Tidak hanya sebatas kata-kata, namun bertindak secara nyata, karena apa yang kita perbuat mencerminkan siapa kita.
(Fr. Alfius Davin Welerubun)
“Ia pergi kepadanya dan membalut luka-lukanya..,” (Luk. 10:34)
Marilah Berdoa :
Tuhan, mampukan aku untuk bertindak seturut dengan kehendakMu. Amin.











