“BIJAKSANA DAN BERTANGGUNG JAWAB”: Renungan, Minggu 8 Oktober 2023

0
1814

HM Biasa XXVII (H)

Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Fil. 4:6-9; Mat. 21:33-43

Bacaan-bacaan hari ini memberikan kita pesan yang sangat berharga tentang tanggung jawab sebagai manusia di hadapan Allah. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengisahkan perumpamaan tentang anggur yang diharapkan akan menghasilkan buah yang baik, tetapi kenyataannya tidak. Allah telah mencangkul, menanam bibit, sampai mendirikan menara penjaga tetapi segala jerih lelah itu sia-sia. Anggur yang dihasilkan asam. Hal ini menggambarkan kesetiaan Allah yang telah memperhatikan kita, menjaga, merawat dan memenuhi segala kebutuhan umatNya. Tetapi cinta kasih yang diberikan Allah hanya membuahkan kekecewaan karena kita tidak menyenangkan hati Allah.

Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi mengajak kita untuk hidup dalam sikap syukur. Dalam setiap situasi apa pun, kita diajak untuk berdoa, bermohon, dan bersyukur. Dengan demikian, kita akan memperoleh damai sejahtera Allah yang melampaui segala pemahaman kita dan senantiasa memelihara hati serta pikiran kita dalam Kristus Yesus dari segala kekhawatiran.

Sikap bertanggung jawab dikisahkan dalam Injil Matius. Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur yang tidak bertanggung jawab. Mereka gagal mengenali otoritas pemilik kebun anggur sehingga mengabaikan tugas mereka untuk mengelolanya dengan baik. Bahkan dalam perumpamaan ini dikisahkan bahwa mereka sampai membunuh putra pemilik anggur ini. Hal ini mengingatkan kepada kita akan bahaya melupakan otoritas Tuhan dalam hidup kita dan mengabaikan panggilanNya untuk hidup dalam keadilan.

Dari ketiga bacaan ini, kita dapat memetik beberapa pelajaran yang penting. Pertama, kita manusia harus selalu sadar dan ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah. Kita memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik dan bijak. Kita hendaknya membiarkan Tuhan berkarya dalam hidup kita sehingga menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan kita dan menyenangkan hati Tuhan. Kedua, kita senantiasa melaksanakan perilaku yang baik seperti mengucap syukur, selalu berdoa, dan memiliki keyakinan bahwa Allah adalah sumber kekuatan dan damai yang sejati. Ketiga, kita harus mengakui otoritas Tuhan dalam hidup kita dan taat kepadaNya.

Marilah bertekad untuk menjadi pengelola yang bijak atas anugerah Tuhan, hidup dalam sikap syukur, dan mengakui otoritasNya dalam setiap aspek kehidupan kita. Dengan demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan dan memuliakan Allah dengan setia.

(Fr. Michael Mefri Kewo)

 “Janganlah kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi dalam segala hal nyatakanlah keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Fil. 4:6)

Marilah berdoa:

Tuhan, Allah kami, kuatkanlah selalu iman kami untuk melaksanakan perintahMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini