“Menjadi Katolik Radikal”: Renungan, Kamis 16 Agustus 2018

0
3122

Hari Biasa (H).

Yeh. 12:1-12; Mzm. 78:56-57,58-59,61-62; Mat. 18:21 – 19:1.

Mungkin anda mengalami kebingunan tentang judul permenungan yang diambil. Kenapa harus radikal? Radikal sendiri berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata “radikal” sungguh bermakna positif, yakni sesuatu yang mendasar/berpikir maju ke depan.

Dalam kehidupan beriman Kristen, sadar atau tidak kita sesungguhnya dituntut untuk menjadi radikal. Memang arti radikal ini sudah mengalami perubahan makna akibat tidak dapat dibedakan dari radikalisme yakni menuntut hal yang mendasar dengan cara kekerasan.

Injil hari ini sangat jelas menggambarkan bagaimana kita hidup sebagai orang Kristen, yakni hidup mengakarkan diri pada ajaran Yesus Kristus sendiri yakni kasih. Petrus bertanya kepada Yesus perihal mengampuni dan Yesus menjawabnya dengan jawaban menakjubkan: “mengampuni tanpa batas dan syarat”. Inilah arti radikal sebagai pengikut Kristus.

Kasih menjadi akar dari identitas Kristiani. Kasih ini diwujudnyatakan lewat perbuatan mengampuni. Memang secara manusiawi ini tidaklah mudah, namun ajaran ini tidak bisa ditawar.

Yesus sendiri membuktikannya lewat mengampuni mereka yang menganiaya Dia dan menunjukkan kasih-Nya kepada mereka yang memusuhi-Nya.

Perbuatan mengampuni menjadi suatu kebaikan tersendiri bagi orang Kristen. Dengannya kita telah menunjukkan teladan Yesus sendiri, serta membawa kelegaan batin, sama seperti ketika kita sendiri diampuni oleh seseorang yang telah kita kecewakan dan sakiti.

Kita tentu ingat Santo Yohanes Paulus II yang ditembak oleh Ali Agca. Suatu pernyataan yang fenomenal dan dianggap kontroversial ketika orang kudus ini mengatakan ia telah memaafkan saudaranya tersebut.

Santo dari Polandia ini adalah contoh pengikut Kristus yang radikal. Ia bahkan mengampuni dan mendoakan musuhnya. Salah satu perbuatan yang mungkin bagi orang yang belum memahami secara mendasar dan benar iman kekristenannya akan merasa canggung dan tidak masuk akal.

Tentu masih banyak yang dapat kita saksikan di sekitar kita bagaimana orang-orang  memohon bantuan yang ilahi agar diberi kekuatan untuk melaksanakan kehendak Allah yakni saling mengampuni dan mengasihi tanpa batas tanpa syarat.

Seorang yang bukan Kristen yakni Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika semua orang Kristen berlaku seperti Kristus, maka dunia akan menjadi Kristen.

Oleh sebab itu, dengan bersikap dan hidup sesuai dengan apa yang menjadi perintah baru Kristus ini, kita telah menjadi orang Kristen yang radikal, orang Kristen yang berpikir maju ke depan dan mendasarkan dirinya pada Yesus Kristus, pada perintah kasih yang diajarkan dan diteladankan-Nya.

Dengan begitu semua orang tahu, bahwa kita adalah murid-murid Kristus, orang-orang Kristen, pewarta kasih sejati.

(Fr. Geraldo Lolong)

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22).

Marilah berdoa:

Allah, bantulah aku agar bisa menjadi pengikut-Mu yang setia dalam setiap aktivitasku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini