Pw Sta. Klara (P)
Hab. 1: 12-2:4; Mzm. 9: 8-9, 10-11, 12-13; Mat. 17: 14-20
Kata “percaya” pada hakekatnya memiliki konsekuensi. Konsekuensi tersebut bisa berupa hal yang baik, tetapi juga bisa berupa hal yang buruk. Entah yang kita inginkan ataupun sebaliknya yang tidak kita inginkan. Sehingga setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Ketika manusia memilih untuk percaya maka akan ada konsekuensinya. Sebaliknya juga ketika manusia memilih untuk tidak percaya, maka akan ada konsekuensinya pula.
Bacaan Injil hari ini menceritakan konsekuensi dari percaya dan tidak percaya kepada Allah. Yesus bersabda: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?”
Penggalan ayat ini mau menunjukkan perilaku manusia yang tidak percaya. Hal ini terlihat jelas dalam peristiwa seorang anak muda yang menderita sakit ayan. Walaupun anak tersebut telah dihantar kepada murid-murid Yesus, namun ia tetap tidak mengalami kesembuhan.
Bagi Yesus hal ini disebabkan karena sikap manusia yang tidak percaya, entah itu para murid dan orang tua dari anak yang menderita sakit ayan.
Maka sesuai dengan maksud kedatangan Yesus ke dunia, yang terpenting bagi manusia ialah percaya kepada Allah. Hal ini disebabkan pilihan untuk percaya memiliki konsekuensinya.
Konsekuensi tersebut ialah mendapatkan kuasa dari Allah, misalnya kuasa penyembuhan orang yang sedang sakit. Para murid tidak dapat menyembuhkan seorang muda yang sakit ayan disebabkan oleh ketidakpercayaan mereka kepada Allah.
Memang keyakinan kepada suatu yang benar dan nyata yaitu Allah haruslah menjadi prinsip hidup setiap orang yang percaya. Keyakinan tersebut akan membuat manusia mendapatkan kuasa dari Allah. Percaya kepada Allah itulah yang disebut dengan iman.
Hari ini dikenang satu sosok yang memiliki kepercayaan yang begitu besar kepada Allah, yaitu Sta. Klara dari Asisi. Kepercayaan yang besar kepada Allah membuahkan hasil yaitu pengabulan dari tahta kepausan terhadap Anggaran Dasar dalam biara yang dipimpin olehnya, yang telah diperjuangkan selama 40 tahun untuk disahkan.
Melalui peristiwa Sta. Klara ini kita diingatkan bahwa kepercayaan kita terhadap Allah pada akhirnya mendapatkan konsekuensi yang baik bagi kita, yaitu mujizat.
(Vicky Solung)
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Mat. 17:20).
Marilah berdoa:
Ya Allah, bantulah aku untuk selalu percaya kepada-Mu. Amin











