“DARI DIA DAN UNTUK DIA”: Renungan, Senin 17 Juli 2023

0
1136

Hari Biasa (H)

Kel. 1:8-14,22; Mzm. 124:1-3,4-6,7-8; Mat.10:34-11:1.

Sobat lentera jiwa, manusia kerap terikat dengan hal-hal duniawi. Misalnya; uang, jabatan, kekuasaan, kekayaan, hubungan dan sebagainya. Bahkan hal-hal tersebut sering membuat kita terjerumus dan sulit untuk keluar dari “zona nyaman”. Atau dalam kehidupan sehari-hari, kita terbuai dengan makanan yang enak, gaya hidup mewah, dimanjakan dengan fasilitas. Tidak dapat dipungkiri, kadang dengan hal-hal tersebut membuat kita jatuh dalam kesombongan sebagai penikmat dan lupa akan “Sang pemberi”.

Dalam Injil Matius 10:34-11:1 mau menegur kita. Ada beberapa pernyataan yang dikatakan Yesus: pertama perihal ‘Yesus datang bukan untuk membawa damai akan tetapi pedang yang memisahkan’. Pemisahan yang dimaksudkan bukanlah suatu perpecahan, melainkan kelepasan kita dengan hal-hal yang terlalu terikat dengan duniawi. Begitu pula, ketika kita sungguh-sungguh membuka hati dan diri kita, maka damai sejahtera akan tinggal dan hidup, serta dengan sendirinya akan memancar kepada orang lain. Asalkan kita mau berserah penuh, meninggalkan apa yang melekat dalam diri kita.

Kedua, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti aku, ia tidak layak bagi-Ku”. Setiap pribadi memiliki salib-Nya masing-masing, namun ini pula suatu ajakan untuk mengikuti kehendak Yesus. Suatu resiko sebagai pengikut Kristus, kita harus memikul salib dan rela berkorban. Memancarkan kasih kepada banyak orang. Jatuh-bangun dan suka-duka adalah suatu pembelajaran agar kita tetap teguh. Maka, semuanya itu perlu dibarengi dengan pengorbanan, karena tanpa berkorban kita tidak dapat menikmati pahit dan manisnya hidup. Yesus mau menegaskan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah setia memikul salib dan mengikuti Dia. Karena semua membutuhkan proses dan pengorbanan.

Dalam bacaan pertama, kita melihat bersama ketika bangsa Israel dipaksa untuk kerja dan raja yang baru berusaha untuk membuat mereka menderita. Nampak ketidakadilan dan keserakahan, yakni Firaun yang tidak ingin agar umat bangsa Israel semakin banyak karena akan mengancam keberadaan mereka. Akan tetapi betapa khas sikap ketaatan dari bangsa Israel, di dalam penderitaan yang mereka alami. Karena harapan besar dari mereka, bahwa Allah akan membebaskan.

Saudaraku yang terkasih, ingatkah kita pada penggalan kalimat dari Santa Theresia Avilla? “Solo Dios Basta” (Tuhan saja Cukup). Sebagai manusia bukan berarti uang dan rumah tidak perlu. Akan tetapi, ketika kita hidup di dalam Tuhan maka semua akan diperlengkapi oleh Dia. Entah dalam kehidupan keseharian kita juga kelak kebahagiaan abadi di Surga. Sadarkah kita bahwa Tuhan masih berkenan menyertai kita sampai saat ini? Kita masih bernafas, melihat, dan menikmati hidup. Tuhan saja cukup, maka yang lainnya akan ditambahkan kepadamu.

(Fr. Roberto Kaparang)

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jauhkanlah kami dari keegoisan diri dan ajarkanlah kami untuk senantiasa berpaling kepadaMu Sang pemberi hidup. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini