PW S. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja (P)
Kej. 49:29-32;50:15-26a; Mzm. 105:1-2.3-4.6-7; Mat.10:24-33
Segala yang hidup di bumi pada dasarnya mempunyai batas waktu sehingga ada saatnya kembali kepada Bapa dalam kematian. Kematian merupakan sesuatu yang pasti sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menolak kematian atau menghindarinya. Menghadapi kenyataan ini, sadar atau tidak sadar, kita sering merasa takut akan kenyataan akhir hidup kita di dunia ini. Akhirnya kematian lalu dipandang sebagai suatu kenyataan yang akan menghapus segala keberadaan hidup manusia. Oleh karena itu tidak heran apabila ada begitu banyak orang memuja kehidupan dan masa muda yang penuh vitalitas serta sedapat mungkin menghindar dari masa tua dengan melakukan berbagai cara. Bayang-bayang kematian terasa sangat kelam dan menakutkan.
Kematian sendiri merupakan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus dan kita mati dalam Kristus. Kematian sendiri sebagai upah dosa dan diubah menjadi berkat, karena kita mati dalam Kristus. Bertolak dari kisah itu, kita kemudian melihat bagaimana Yakub yang pada akhir hidupnya sudah mengetahui bahwa ia akan kembali kepada Allah sebagaiman dialami oleh para leluhurnya. Tanpa ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya dalam menghadapi kematian itu sendiri, karena pada dasarnya ia yakin bahwa setiap yang hidup akan mati. Kematian bukanlah akhir dari semuanya tetapi justru sebagai putaran hidup yang baru yang tentunya berbeda dengan kehidupan di dunia.
Dalam Injil hari ini, Yesus dengan tegas mengatakan “setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa hati adalah unsur yang sangat penting dalam hidup manusia, karena dari sana keluar segala yang orang perbuat.
Kematian sendiri merupakan sesuatu yang indah yang patutnya menjadi kebanggaan bagi setiap orang beriman. Kematian sendiri akan membawa keselamatan dan hidup baru bagi orang-orang yang betul-betul siap dan percaya bahwa dengan segala perbuatan baik yang ia lakukan di dunia dapat menuntunnya untuk menerima mahkota keselamatan dari Allah.
(Fr. Stefanus Ea)
“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 10:32-33)
Marilah berdoa:
Ya Allah sumber dan pangkal kehidupan kami, sertailah kami dalam perziarahan hidup di dunia ini agar selalu melakukan kehendakMu. Supaya kelak dalam kematian, kami berani memasrahkan diri seutuhnya kepadaMu. Amin.











