“Apa Itu Panggilan Yesus?”: Renungan, Rabu 12 Juli 2023

0
1068

Hari biasa (H).

Kej 41:55-57; 42:5-7a,17-24a; Mzm. 33:2-3,10-11,18-19; Mat. 10:1-7

 Jangan minta kepada Tuhan apa yang menurut anda baik, tetapi mintalah kepada-Nya apa yang menurut Dia baik bagi anda.Tuhan menciptakan manusia karena ada maksud dan tujuannya. Namun tak ada satu pun yang dapat mengetahuinya. Kendati demikian apakah manusia hanya berdiam diri dalam tidaktahuan itu? Tidak! Sebagai manusia, kita perlu mencari tahu dan mewujudkannya. Kadang banyak orang jadi rancu dengan kata “panggilan Tuhan” ini. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan pelayanan dan pekerjaan. Sebenarnya kita bisa mendefinisikannya seperti: “panggilan Tuhan itu personal, undangan kepada masing-masing orang untuk melaksanakan tugas yang sudah Tuhan persiapkan”. Tapi bagaimana kita bisa melakukannya?

Panggilan hidup setiap manusia berbeda-beda. Saat penyadaran akan panggilan hidup juga berbeda-beda: baik mengenai peristiwa, tempat, cara dan bagaimana Tuhan menunjukkan panggilan hidup itu. Ada yang dipanggil melalui pengalaman hidup dramatik yang dialami; ada yang karena ketertarikan akan seseorang atau suatu pelayanan tertentu; ada yang memang sejak kecil sudah mengalami nuansa religius yang kental; atau ada pula yang biasa-biasa saja pengalamannya. Tuhan menunjukkan kepada kita panggilan hidup dengan berbagai macam cara, peristiwa, sesuai dengan keadaan masing-masing orang dan apa yang dikehendaki-Nya. Seperti kedua belas murid yang di panggil oleh Tuhan, kita pun dipanggil oleh-Nya meskipun melalui hal-hal sederhana yang dialami setiap hari.

Semua peristiwa dan pengalaman sehari-hari sebenarnya memang biasa, namun akan menjadi bernilai setelah kita merenungkannya dengan mata hati nurani dan mata hati Tuhan. Persoalannya adalah beranikah kita memandang peristiwa dan pengalaman sehari-hari dengan mata hati Tuhan, sebagaimana Tuhan sendiri memandang dan menilai pengalaman kita sehari-hari? Ada yang berkeinginan untuk sukses dalam karier dan berprofesinya; ada yang ingin kaya dan sejahtera dalam hidup berkeluarga; ada yang ingin keduanya sekaligus; bahkan ada pula yang terpanggil untuk hidup selibat (tidak menikah). Namun, tidak sedikit juga yang ingin sukses dalam hidup sosial, dalam pergaulan, dalam kegiatan kerohanian, serta tidak sedikit yang secara religius ingin mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Pada intinya panggilan yang dihidupi merupakan perwujudan cita-cita. Kalau tidak menjadi cita-cita hidupnya, maka tidak ada motivasi dan energi untuk memelihara dan menghidupinya.

(Fr. Jordy Mamahit)

Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu

pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu. (Ef. 4:4)

Marilah berdoa:

Bapa yang Mahabaik, bimbinglah aku kepada panngilanku sesuai yang Engkau harapkan. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini