“Apa Itu Kasih?”: Renungan, Jumat 10 Agustus 2018

0
2755

Pesta Santo Laurensius, DiakMrt (M)

2Kor. 9:6-10; Yoh. 12:24-26

Saudaraku terkasih, bacaan hari ini mengigatkan kita bahwa pemberian harus didasarkan atas kasih yang tulus dan bukan atas keserakahan yang menuntut balasan. Dalam bacaan pertama dikatakan, “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”.

Perikop ini mengingatkan kita betapa pentingnya kita memberi sebab pemberian itu mendatangkan kebahagiaan. Kita berbahagia karena dengan kita mengasihi dan memberi membuat orang lain berbahagia.

Hal inilah yang ditunjukkan oleh Santo Laurensius, seorang martir, yang hari ini kita rayakan pestanya. Santo Laurensius adalah seorang yang sangat mencintai Kristus. Hal ini ditunjukkannya lewat kecintaannya kepada mereka yang miskin.

Ketika ia dipaksa untuk memberikan harta milik Gereja kepada penguasa kota Roma, ia dengan gagah berani memberikan seluruh harta itu kepada orang-orang miskin.

Demikianlah yang dikatakan dalam bacaan pertama. “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Perbuatan Santo Laurensius ini membuat dia ditangkap dan dipanggang hidup-hidup sampai ia mati. Namun Laurensius tidak mengeluh dan merasa takut sedikitpun ketika ia menghadapi hukuman itu.

Ia bahkan dengan berani mengatakan: “Sebelah bawah sudah hangus, baliklah badanku agar seluruhnya hangus!”. Demikian dia berkata dengan sinis kepada para algojo yang menyiksanya.

Saudaraku terkasih, kegigihan Santo Laurensius dan keberaniannya ini sungguh menunjukkan bawa ia adalah seorang ksatria Kristus. Ia sungguh menghayati apa yang dikatakan oleh Kristus dalam bacaan Injil yang hari ini kita dengarkan: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”.

Santo Laurensius telah memelihara nyawanya untuk hidup yang kekal. Ia rela memberikan harta kekayaan dan nyawanya demi mereka yang miskin dan sederhana. Maka ia mendapat kebahagiaan yang berlimpah dalam pangkuan Bapa di surga.

Karena itu, saudaraku terkasih, jadikanlah diri kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang menghadirkan kasih bagi banyak orang lewat tindakan-tindakan sederhana dalam memberi. Janganlah takut untuk memberi, sebab semakin kita memberi, semakin banyak pula kita akan menerima.

Karena pemberian yang didasarkan atas kasih adalah pemberian yang mendatangkan kebahagiaan. Sebab kasih itulah sumber kebahagiaan sejati nan abadi.

Kita berbahagia karena dalam hati ada kasih. Kita berbahagia karena kita bisa mengasihi. Ternyata kebahagiaan datang bukan karena kita mendapatkan, tetapi justru karena kita memberi dan mengasihi. Cobalah, engkau pasti tersenyum bahagia.

(Fr. Denny Rahayaan)

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah aku mengasihi seperti Engkau mengasihi aku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini