“Perjanjian”: Renungan, Kamis 09 Agustus 2018

0
2545

Hari Biasa (H)

Yer. 31:31-34; Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Mat. 16:13-23

Sejak zaman Perjanjian Lama hingga zaman sekarang, manusia selalu hidup dengan perjanjian. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang atau satu pihak memberi satu harapan kepada seseorang atau pihak lain untuk melaksanakan suatu hal secara bersama. Perjanjian menjadi semacam tali pengikat antara dua pihak dengan harapan saling menguntungkan.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini mau berbicara tentang perjanjian yang mengantar kita kepada Tuhan. Perjanjian Tuhan dan manusia seperti dilukiskan dalam bacaan pertama mengarahkan kita untuk senantiasa sadar bahwa manusia adalah rekan perjanjian Allah.

Makanya manusia menerima kepercayaan untuk bekerja di ladang Tuhan. Maka dari itu janganlah kita lelah atau bosan. Seperti dalam nyanyian, “Jangan lelah bekerja di ladang Tuhan, Roh Kudus yang memberi kekuatan”.

Perjanjian dengan Allah mengantar kita kepada kebaikan di dunia dan kebahagiaan di surga. Mungkin terlalu jauh. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Ialah perjanjian.

Tanpa kita sadari, kita menerima perjanjian dari Tuhan pada masa modern ini, misalnya: sebagai seorang Katolik, kita membuat tanda salib. Tanda salib bukan hanya menunjukkan bahwa kita adalah milik Allah, tetapi bagaimana cara kita menjadi milik Allah. Kita mengikat perjanjian dengan Allah melalui tanda salib.

Petrus adalah seorang murid sekaligus contoh bagaimana manusia mengikat perjanjian dengan Allah. Setiap tindakannya menunjukkan bahwa ia adalah murid yang penuh dengan keberanian.

Di saat murid lain merasa kebingungan dengan pertanyaan Yesus, Petrus menjawab dengan tepat, “Engkau adalah Mesias Putera Allah”.

Konsekuensi dari pernyataan Petrus adalah ia dipilih menjadi pemimpin. Ia ditunjuk oleh Yesus untuk menjadi orang kepercayaan-Nya, memimpin Gereja di dunia.

Petrus menjadi sosok teladan yang mengikat perjanjian dengan Yesus. Maka dari itu, genaplah perkataan Yeremia tentang Perjanjian Baru yang akan datang. Yesus membawa Perjanjian Baru dengan manusia yang diwakili oleh Petrus.

Kita manusia zaman now, harus sadar bahwa perjanjian yang dimeteraikan kepada kita sebagai orang Kristen adalah perjanjian yang menghantarkan kita kepada Allah.

Kita harus sadar bahwa perjanjian dengan Allah dapat hancur karena kecerobohan kita. Untuk itu, kita mesti menjadi lentera yang selalu bersinar dengan setiap perjanjian yang kita ikat. Itulah lentera perjanjian.

(Fr. Cardo Woi)

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku untuk selalu setia dengan setiap ikatan perjanjian. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini