“BERANI BERSAKSI ATAS KEBENARAN”: Renungan, Senin 15 Mei 2023

0
1259

Hari Biasa Pekan VI Paskah (P).

Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Yoh. 15:26-16:4a.

Pengajaran dan pewartaan injil adalah perutusan Yesus kepada para murid-Nya. Perutusan ini terus berlanjut sampai zaman sekarang. Perutusan ini tidak hanya terbatas pada kalangan para uskup, imam, diakon, kaum religius, tetapi semua orang yang mengikuti Yesus Kristus. Karena itu setiap orang yang memberi diri dibaptis, mengemban tugas untuk mewartakan injil. Pewartaan bisa saja direalisasikan dengan cara berbicara kepada orang lain. Pewartaan itu tidak hanya sebatas kata-kata, melainkan dengan hidup benar dan berbuat kebaikan sesuai dengan yang diajarkan Yesus; mengasihi, mengampuni, membantu orang yang susah dan tindakan kasih lainnya. Dengan begitu kita bersaksi dan menghidupi ajaran Yesus Kristus kepada orang-orang di sekitar kita.

Perintah Yesus untuk bersaksi tentang Dia tidaklah mudah karena disertai dengan konsekuensi-konsekuensi. Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang memberitahukan kepada para murid konsekuensi-konsekuensi bersaksi tentang dirinya, yaitu dibenci, dikucilkan dan bahkan dibunuh. Konsekuensi-konsekuensi itu terdengar menakutkan dan bahkan menghilangkan nyali untuk bersaksi. Dalam sepanjang sejarah Gereja, santo-santa, martir, pewarta dan misionaris menunjukkan kepada kita karya mereka yang berhasil mewartakan injil kepada orang yang belum mendengarnya dan yang mempertahankan imannya atas kesaksian tentang Yesus sehingga disiksa bahkan dibunuh. Hal itu juga dialami oleh Yesus datang ke dunia dan kemudian wafat bagi manusia.

Bersaksi berarti rela mengorbankan diri. Sikap rela berkorban harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin bersaksi tentang kebenaran. Sebab itu sikap mementingkan diri sendiri harus dilepas. Dengan begitu kita dapat bersaksi yang benar tentang Kristus dan kesaksian itu untuk banyak orang yang belum mengenal Dia. Kendati kesaksian itu biasanya disikapi dengan penolakan tetapi ada juga yang menerimanya. Seperti Rasul Paulus dan Timotius yang mewartakan injil kepada perempuan-perempuan tetapi hanya satu perempuan yang menanggapinya. Berbahagialah Paulus karena perempuan itu dan seisi keluarganya memberi diri dibaptis. Pewartaan dan kesaksian itu berhasil karena Paulus bertekun dan juga dituntun oleh Roh Kudus. Pertanyaan refleksi bagi kita apa kita berani bersaksi benar (tentang segala ajaran dan karya Yesus) dalam setiap perkataan dan tindakan kita?

(Fr. Romi Lermatan)

“Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku” 

(Yoh. 16:1)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan kuatkanlah kami dengan Roh Kudus agar kami dapat berani bersaksi benar. 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini