“BERTOBATLAH”: Renungan, Jumat 28 April 2023

0
1167

Hari biasa Pekan III Paskah (P).

Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.  

Di tengah digitalisasi peradaban sekarang ini, peristiwa dan kabar berita menjadi cepat sekali tersebar, entah itu berita benar atau berita hoax. Namun di satu sisi pula, kebanyakan orang sudah pintar mengolah dan menyaring hal-hal yang tersebar di sosial media. Realita ini mengharuskan kita untuk kritis terhadap setiap hal yang dirasa baru, apalagi tidak lazim bagi kita. Keragu-raguan pasti akan membawa kita pada ketidakpercayaan, tetapi dengan mengerti secara baik, kita pasti akan menemukan kebenaran dibaliknya.

Injil hari ini mengisahkan orang-orang Yahudi yang bertengkar terhadap ajaran Yesus mengenai hal memakan daging dan meminum darahNya. Sebagai manusia normal kita patut bertanya: Mengapa Yesus menyuruh mereka memakan dagingNya dan Minum darahNya? Tentu mereka berpikir bahwa Yesus sudah gila, karena menyuruh orang melakukan kanibalisme. Hal baru dan tidak lazim ini memunculkan keragu-raguan yang akhirnya bermuara pada ketidakpercayaan. Sekali lagi, kita harus pintar dalam mengolah dan menyaring hal-hal baru dan tidak lazim. Ketika Yesus mengatakan untuk makan dagingNya dan minum darahNya, maka yang dimaksudkan oleh Yesus adalah penyerahan dirinya, penyerahan nyawanya untuk kita umat manusia. Yesus berkata, “…Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Jelas sekali bahwa Yesus mengorbankan hidupNya kepada kita umat manusia agar kita dapat memperoleh hidup yang kekal. Pengorbanan tersebut mencapai puncaknya pada peristiwa Salib.

Yesus mengorbankan diriNya untuk kita. Apa yang kita berikan kepada Yesus? Tentu saja yang kita berikan adalah pertobatan diri. Dalam bacaan pertama, dikisahkan tentang Saulus yang bertobat. Kita sangat kenal Saulus, ia adalah seorang yang sangat membenci Yesus dan orang-orang yang berpegang pada ajaranNya. Ia telah membunuh dan memenjarakan orang-orang Kristen. Namun apa yang terjadi? Yesus memanggil dia untuk menjadi pewarta kabar suka cita. Dari kisah pertobatan Saulus hingga berubah menjadi seorang yang disebut Paulus, kita mengerti bahwa Yesus benar-benar ingin memanggil orang berdosa untuk bertobat, sebesar apapun dosanya. Karena yang membutuhkan tabib adalah orang sakit, bukan orang sehat. Maka dari itu marilah dalam masa Paskah ini kita mengusahakan hidup tobat kita. Belum terlambat untuk bertobat, sebab kasih karunia Allah itu besar dan berlimpah bagi kita yang mau diselamatkan. Amin.

(Fr. Hilarius Manaan)

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barang siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57)

Marilah berdoa:

Ya Yesus, buatlah kami untuk menyadari dosa kami dan bukalah pintu pertobatanMu agar selamatlah kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini