Hari Jumat dalam Oktaf Paskah (P)
Kis. 4: 1-12; Mzm. 118: 1-12.4.22-24.25-27a; Yoh. 21: 1-14.
Bacaan Injil hari ini mengajak kita, untuk selalu menaruh perhatian kepada siapa saja yang sedang berbicara kepada kita. Sebab kalau kita tidak memperhatikannya, maka sangat fatal. Karena pasti kita tidak tahu berbuat apa-apa, ketika di perintah untuk melakukan apa yang di jelaskan tadi. Para murid Yesus menjadi contoh dan teladan untuk kita. Di mana, pada saat Yesus menyuruh mereka untuk menebarkan jala, mereka langsung melakukannya. Meskipun mereka sudah melakukannya dari malam sampai pagi. Namun atas perintah dari Yesus, maka mereka menaruh perhatian kepada-Nya dan melakukannya lagi. Alhasilnya, mereka mendapat begitu banyak ikan sehingga mereka tidak bisa menarik lagi jala mereka ke atas perahu.
Peristiwa tersebut hendak menyadarkan kita bahwa, hanya di dalam Dia kita memperoleh keselamatan. Hanya melalui Dia, kita mendapat berkat. Karena Ia rela menderita hanya untuk menebus segala kedosaan kita. Ia menampakkan diri-Nya di danau Tiberias sebagai bukti bahwa, Yesus tidak ingin manusia menjadi sesat. Ia ingin supaya manusia menjadi saluran kabar gembira bagi sesamanya. Sehingga Yesus menyuruh para murid-Nya menebarkan jala dan menangkap ikan yang begitu banyak. Hal ini menjadi batu loncatan bagi para murid-Nya, untuk selalu menyelami setiap hati sesamanya dengan mewartakan kabar gembira agar mereka memperoleh keselamatan.
Dalam bacaan pertama, Petrus secara tegas mengatakan kepada para pimpinan Yahudi di Yerusalem katanya; “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (4:12)”. Yesus adalah satu-satunya Juruselamat kita. Karena Ia rela menyerahkan nyawa-Nya kepada kita. Hal itu sangat jelas, ketika Yesus duduk makan dengan para murid-Nya; “Ia maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan (Yoh. 21: 13). Roti melambangkan tubuh-Nya sedangkan ikan menjadi simbol Yesus Kristus itu sendiri, Sang penyelamat. Dengan demikian, Yesus merupakan Sang penyelamat kita. Karena dengan pengorbanan-Nya di tiang salib, kita dibebaskan dari kedosaan yang kita perbuat. Untuk itu sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita diajak untuk boleh ambil bagian dalam pengorbanan-Nya dengan cara membantu sesama kita yang menderita. Sebab dengan tindakan kasih itu, kita telah ambil bagian dalam misi-Nya di dunia ini.
(Fr. Afelindus Babaubun)
“Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri, namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis. 4:11)
Marilah Berdoa:
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menyelamatkan kami. Amin.











