“BERJALAN DALAM TERANG KRISTUS”: Renungan, Rabu 12 April 2023

0
1595

Hari Rabu dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 3:1-10; Mzm 105 1-2. 3-4. 6-7. 8-9; Luk. 24:13-35.

Jika setiap seorang ingin membangun relasi keakraban dengan orang lain, maka ia harus berusaha untuk berani masuk dalam suatu komitmen dengan ikatan batin secara mendalam. Sebab, jika tidak, orang akan merasa sedih, kecewa dan merah, jika ditinggalkan oleh orang yang telah membangun kedekatan yang mendalam bersama janji-janji yang pernah dilontarkan kepadanya. Hal demikian akan memicu rasa putus asa dari dalam diri, akibat orang yang dipercayai pergi dan menghilang begitu saja. Demikian pula, yang dirasakan oleh Para rasul.

Kematian Yesus di atas kayu salib menjadi sebuah peristiwa yang sangat terpukul bagi para rasul. Kesedihan dan kekecewaan dari dalam diri para rasul semakin menjadi-jadi, ketika mereka mendengar jasad Yesus hilang dari kubur, tempat Ia dibaringkan. Mereka sangat sedih karena Tuhan yang menjadi guru, dan pemimpin mereka tidak lagi ada bersama-sama dengan mereka. Perasaan sedih dan kecewa juga dilukiskan dalam injil hari ini tentang dua orang murid Yesus yang berjalan ke Emaus. Kematian Yesus di atas kayu salib menjadi alasan bagi kedua orang murid itu untuk pergi ke Emaus. Rasa putus asa bercampur sedih serta kecewa akan harapan yang dijanjikan oleh Yesus seakan-akan sirna begitu saja. Bahkan hal itu dapat dirasakan ketika seorang dari mereka yang bernama Kleopas menjawab pertanyaan Yesus yang saat itu tidak mereka kenal, ketika mereka berhenti di Muka muram. Kegelapan iman inilah yang mengalangi mereka untuk mengenal Yesus sekalipun ketika Yesus membuka pikiran mereka dan hati mereka berkobar-kobar saat Ia menjelaskan seluruh kitab Nabi. Namun hal yang paling berkesan dari kisah ini, yakni ketika Yesus membuka mata iman mereka, pada waktu Ia mengambil roti dan mengucap berkat, lalu memberikannya kepada mereka. Kini kedua murid tersebut tidak lagi merasakan rasa sedih dan kecewa, sebab dengan terbukanya mata mereka oleh karena kasih Yesus, merubah kesedihan mereka menjadi perasaan gembira kembali. Rasa gembira itu, juga dirasakan oleh seorang pengemis lumpuh yang diletakan dekat gerbang Bait Allah, yang disembuhkan oleh Petrus dan Yohanes, dalam bacaan pertama. Demikian Petrus dan Yohanes ingin menunjukkan betapa besarnya kuasa Tuhan dalam hidup setiap umat manusia. Melalui Petrus dan Yohanes, Tuhan ingin membuka mata orang banyak agar percaya kepadaNya.

Namun terkadang sebagai manusia biasa, kita sering kali dibutakan oleh hal-hal duniawi yang membuat kita tidak dapat melihat karya-karya Tuhan dalam setiap hidup kita. Peristiwa iman yang dialami oleh kedua murid Yesus dan melalui kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada saat ini, semoga mampu menjadi semangat yang baru bagi kita untuk terus berjalan dalam terang kasih Allah, serta mampu membuka mata hati kita untuk lebih terang dalam melihat setiap perkara yang Tuhan lakukan dalam hidup kita.

(Fr. Krsitianus Batlayeri)

Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaanNya?” (Luk 24:26)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bukalah mata dan pikiran kami supaya, kami mampu berjalan dalam terangMu dan mampu melihat karya-karyaMu yang besar dalam hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini