“IMAN ATAU EMAS?”: Renungan, Selasa 04 April 2023

0
1338

Hari Selasa dalam pekan suci (U)

Yes. 49:1-6; Mzr. 71:1-2,3-4a,5-6b,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38

Seorang filsuf bernama Kierkegaard dalam refleksinya, membedakan tiga cara hidup manusia yakni estetis, etis dan religius. Cara hidup estetis adalah cara hidup yang sangat duniawi. Manusia estetis selalu terarah kepada kenikmatan. Patokannya ialah dorongan-dorongan naluriah, keinginan-keinginan tubuh dan perasaan. Segala cara akan dibenarkan, dan ia akan menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai objek demi mencapai kenikmatan. Cara hidup religius adalah cara hidup tertinggi. Menurutnya, manusia mencapai puncak kebahagiaannya ketika ia bersatu dengan Tuhan. Orang yang hidup dengan cara ini akan menemukan bahwa dirinya terbatas. Ketika mengalami keputusasaan ia akan tahu bahwa itu merupakan pengalaman keterbatasan manusia. Artinya bahwa keputusasaan membuat manusia menjadi sadar bahwa dirinya tidak mampu mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi memerlukan kekuatan yang datang dari Allah.

Bacaan-bacaan hari ini persis menggambarkan dua dari tiga bentuk cara hidup di atas. Cara hidup estetis diwakili oleh Yudas yang menjual Tuhan dan iman demi kesenangannya. Ia menghalalkan segala cara bahkan dengan menjual Tuhan dan imannya untuk menghasilkan uang. “Dan sesudah Yudas menerima Roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: apakah yang hendak kauperbuat, perbuatlah segera”. Sedangkan cara hidup religius diwakili oleh Yesaya yang menemukan keterbatasannya sebagai manusia dan memperoleh kekuatan dari Tuhan. “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada Tuhan dan upahku pada Allahku.”

Kedua cara hidup ini ada di hadapan kita. Sebagai makhluk yang bebas, setiap orang bebas menentukan pilihannya. Manusia bebas untuk memilih antara memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya atau menyimpannya demi kesenangan pribadi, menghabiskan waktu dengan telepon seluler atau mengambil waktu untuk masuk dalam keheningan, memilih pantang merokok atau terus merokok meskipun itu adalah hari pantang dan puasa. Semuanya ada di hadapan kita, tetapi ingatlah bahwa melalui suara hati Allah selalu mengarahkan manusia pada pilihan yang baik dan benar. Allah dalam kuasaNya selalu membantu manusia untuk mengarahkan pilihannya pada kebaikan terhadap diri sendiri, sesama dan Allah sendiri.

Hidup religius yang benar dan baik akan membawa manusia pada kesempurnaan hidup di dunia dan surga. Hidup estetis membawa kesempurnaan hidup di dunia. Apakah pilihan kita: iman atau emas?

                                                                        (Fr. Alosius Gonsaga No)

“Sebelum Ayam Berkokok engkau akan menyangkal Aku tiga kali” (Yoh. 13:38)

Marilah Berdoa:

Ya Allah engkaulah kekuatanku. Bantulah aku agar aku tidak menyangkal engkau di hadapan dunia. Amin

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini