“Pukat”: Renungan, Kamis 02 Agustus 2018

0
8574

Hari Biasa (H).

Yer. 18:1-6; Mzm. 146:2abc,2d-4,5-6; Mat. 13:47-53.

Yesus sering menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan Kerajaan Surga. Perumpamaan itu digunakan oleh Yesus supaya orang-orang yang hidup pada zaman-Nya mengerti maksud ajaran-Nya. Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang memberikan perumpamaan tentang pukat. Pukat adalah alat yang dipakai oleh nelayan untuk menangkap ikan. Jika alat ini dilabuhkan di laut, maka dapat menampung jenis-jenis ikan. Ada ikan yang besar dan ada yang kecil. Ada pula ikan yang baik dan ada yang tidak baik. Ikan yang baik akan ditaruh dalam pasu dan ikan yang tidak baik akan dibuang.

Dalam perumpamaan itu, lautan dapat diartikan sebagai dunia, ikan-ikan adalah manusia-manusia. Mereka yang mengumpulkan ikan adalah para malaikat. Pukat adalah panggilan Allah untuk bersatu dengan-Nya. Allah memanggil manusia untuk bersatu dengan-Nya dalam diri Yesus Kristus sendiri. Yesus telah diutus ke dunia untuk memanggil siapa saja, supaya manusia bisa hidup dalam suasana Kerajaan Allah. Yesus Kristus datang ke dunia untuk mempersatukan kembali kita dengan Bapa. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk bersatu dan percaya akan karya Kristus itu. Kepercayaan kepada-Nya akan menuntun kita menjadi orang-orang yang baik dan bisa hidup di dalam kerajaan-Nya.

Perupamaan tentang pukat yang diberikan oleh Yesus mengisyaratkan maksud-maksud yang mendalam. Yesus dalam perumpaan ini mau menunjukkan bahwa ia mau menarik dan memanggil semua orang supaya berada dalam kesatuan dengan diri-Nya. Manusia dipanggil untuk berorientasi pada jalan hidup yang sudah ditentukan oleh Allah. Allah mau menarik siapa saja untuk bersatu dan bersekutu dengan-Nya, tanpa terkecuali. Untuk bersatu dengan-Nya manusia harus meninggalkan segala perbuatan yang buruk dan mengarahkan diri pada perbuatan-perbuatan yang baik, yang sesuai dengan panggilan dan kehendak Allah.

Kita diajak untuk selalu bersatu dengan panggilan dan kehendak Allah. Ketika kita mau bersekutu dengan panggilan dan kehendak Allah, kita akan berbahagia dalam Kerajaan Allah. Ajakan nabi Yeremia pun demikian. Kita mesti ada dalam kehendak Allah. Allah seperti tukang periuk yang membentuk kita. Ketika rusak, kita akan dibentuk lagi menurut kehendak Tuhan, supaya indah kembali. Ini mengisyaratkan bahwa kita mesti datang kepada-Nya dan mau bersekutu dengan-Nya. Bila tiba saatnya kelak, kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia di surga.

(Fr. Bonifasius Dianomo)

“Lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang” (Mat. 13:48)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, biarlah kami ikut serta dalam Kerajaan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini