“MENJADI BERKAT BAGI SESAMA”: Renungan, Minggu 02 April 2023

0
1503

HARI MINGGU PALMA (M)

Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14-27:66 (panjang) atau Mat. 27:11-54 (singkat).

Hari Minggu Palma adalah peristiwa peringatan saat Yesus memasuki kota Yerusalem sebelum Ia dikorbankan dan bangkit kembali demi mengemban misi BapaNya. Masuknya Yesus ke kota Yerusalem adalah peristiwa yang istimewa ketika banyak orang mengalas jalan dengan daun palem adalah kebiasaan yang dilakukan hanya untuk orang-orang yang berkedudukan tinggi pada zaman itu. Peristiwa ini penting karena terjadi sebelum Yesus mengalami sengsara, wafat dan bangkit dari kematian.

Saat ini kita tidak hendak larut ke dalam romantisme jubah putih, keledai, meriahnya lambaian daun palem. Sebaliknya kita semua diajak untuk merenungkan serta menghayati hakikat dari Paskah itu sendiri. Nabi Yesaya telah menubutkan tentang sang Mesias yang karena ketaatanNya kepada Bapa, Ia rela menanggung semua konsekuensi yang terjadi. “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi”. Demikian hal senada diungkapkan oleh Paulus, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Ketaatan Yesus kepada Bapa membuat Ia berani walaupun harus diadili oleh Pilatus, mendapatkan tekanan dari para imam, dan ditolak oleh orang-orang sebangsaNya. Demi menaati Bapa di surga, dalam karya penyelamatanNya bagi seluruh umat manusia, Sang Mesias rela menderita, bahkan sampai mati di kayu salib. Namun dalam ketaatan akan penderitaan-Nya itulah yang membuat Ia dimuliakan oleh Bapa. KetaatanNya akan kehendak Bapa dan bahkan harus sampai mati disalib membuat kepala pasukan takjub dan takut, serta berseru: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Inilah kasih Tuhan yang tak terbatas. Kasih yang diberikan Kristus secara total kepada dunia dan manusia, walau untuk itu Ia harus menanggung derita yang sangat hebat dan bahkan harus mati di salib. Inilah hakikat Paskah, yang bukan sekadar untuk diherani, disyukuri dengan doa dan nyanyian saja, tetapi yang mengubah dan membarui totalitas pribadi kita. Agar kita pun siap untuk menderita demi menjadi berkat bagi sesama.

(Fr. Aloisius Wazi)

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku mampu untuk taat kepada hehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini