Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)
Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk. 15:1-3.11-32
Kehilangan seseorang pasti membuat kita merasa sedih, terutama orang-orang yang kita cintai. Kesedihan yang dihadapi pasti akan berubah menjadi kebahagiaan ketika orang yang dicari akhirnya ditemukan kembali. Hal yang sama juga ditampilkan dalam perumpamaan anak yang hilang, di mana kesedihan digantikan dengan kebahagiaan oleh seorang bapa karena anaknya telah kembali.
Injil hari ini menampilkan dengan sangat baik betapa kasih yang tak berkesudahan dari bapa kepada anaknya. Kasih Allah itu sangat berlimpah dalam diri kita dan tidak pernah berkesudahan, sehingga Ia tidak pernah membiarkan makhluk ciptaannya hilang. Perumpamaan anak sulung dan bungsu dalam kisah injil ini mau mengkritik sikap para ahli Taurat dan orang Farisi yang dianggap oleh Yesus sudah jauh dari Allah karena segala dosa yang mereka perbuat. Perumpamaan ini pun menggambarkan dengan baik, jalan menuju suatu sikap pertobatan. Sikap ini pun harus tercipta dalam diri kita sebagai umat beriman khususnya dalam masa-masa Prapaskah ini. Jalan menuju sikap tobat itu dimulai dari realitas kehidupan yang penuh dengan dosa. Seseorang harus menyadari kondisinya yang penuh dengan kesengsaraan dan dosa, kemudian ia mulai menyesali segala perbuatan tersebut hingga akhirnya dengan tulus ingin berpaling dari segala perbuatan buruknya dan bertobat lewat tindakan nyata. Jalan ini mungkin terlihat sederhana, namun kuncinya terdapat pada ketulusan dan kesetiaan yang sering kali gagal dilaksanakan oleh umat beriman pada umumnya.
Kita sebagai umat beriman pasti memiliki kelemahan dan sering jatuh dalam hal yang sama seperti yang ditampilkan oleh si bungsu. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sehingga Ia selalu datang dan merangkul kita untuk kembali ke jalan yang benar melalui pertobatan yang berasal dari diri kita sendiri. Oleh karena itu marilah kita memulai hidup yang baru dengan sebuah pertobatan. Hendaklah kita melihat bahwa tobat tidak hanya dan tidak cuma sampai pada menyesal, tapi harus bangkit dan kembali. Kembali kepada Bapa berarti kembali untuk memulai hidup baru dengan semangat baru dari Allah. Kita dipanggil untuk hidup dalam lingkaran pertobatan, karena Allah adalah Bapa yang dengan setia menunggu kita untuk kembali.
(Fr. Luis Sainyakit)
“Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. maka mulailah mereka bersukaria”. (Luk. 15:24)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, tuntunlah kami selalu untuk terus datang kepadaMu seraya memohon pertobatan atas segala kesalahan yang kami perbuat. Amin











