Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)
Dan. 9: 4b-10; Mzm. 79:8, 9, 11, 13; Luk. 6: 36-38.
“Istri saya tuli”. Keluh seorang suami kepada dokter pribadinya. “Saya harus bicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti”. Sang dokter lantas memberi usul: “bicaralah dengannya dari jarak sepuluh meter. Jika tidak ada respons, coba dari jarak lima meter, lalu dari jarak satu meter. Dari situ kita akan tahu ketuliannya”. Si suami mencobanya. Dari jarak sepuluh meter, ia bertanya kepada istrinya, “kamu masak apa hari ini?” Tak terdengar jawaban. Ia mencoba dari jarak lima meter bahkan satu meter, tetap saja tak ada respons. Akhirnya ia bicara di dekat telinga istrinya, “masak apa kamu malam ini?” Si istri menjawab: “sudah empat kali aku bilang: sayur asam!!!” Rupanya sang suamilah yang tuli.
Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas mengisahkan tentang sosok Bapa yang murah hati. Ajaran ini merupakan sebuah seruan untuk mewujudnyatakan hukum cinta kasih. Dalam hal inilah perintah untuk tidak menghakimi nampak sebagai dimensi kemanusiaan kita. Tak jarang kita sering menghakimi orang lain tanpa berkaca bahwa diri kita juga memiliki kekurangan, bahkan lebih parah. Emosi dan dengki membutakan hati kita sehingga kita tidak melihat lagi sesama kita sebagai saudara. “Janganlah kamu menghakimi”, sabda Yesus ini merupakan sebuah teguran bagi kita untuk senantiasa mengoreksi diri kita supaya kita tidak gampang mencela orang lain.
Bacaan pertama mengisahkan tentang Daniel yang mengarahkan mukanya kepada Tuhan untuk berdoa dan memohon. Ia menyadari betapa besarnya kesalahan yang diperbuat bangsa Israel kepada Allah. Itulah sebabnya mewakili bangsanya ia meminta pengampunan dari Allah. Demikianlah Daniel merupakan seorang nabi yang dipanggil Allah untuk menghantar orang banyak supaya percaya terhadap Allah yang Mahabesar dan dahsyat.
Pertanyaannya, apa yang Yesus inginkan dari kita? Yesus mau supaya supaya kita juga memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Kita dipanggil untuk menjadi solider dengan sesama kita dan dengan rendah hati membantu serta menopang mereka dari kejatuhan. Menyadari bahwa kita hidup berdampingan dan membutuhkan bantuan orang lain, maka sudah sepatutnyalah kita tidak menjadi pribadi yang mudah menghakimi. Dengan demikian, dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk belajar mengoreksi dan menyadari segala kelemahan diri, supaya pintu pengampunan Allah senantiasa terbuka bagi kita.
(Fr. Piterson Kussoy)
“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi…” (Luk. 6:37)
Marilah Berdoa:
Ya Kristus, biarlah kasihMu menyadarkan kami supaya tidak mudah menghakimi sesama. Amin.











