“KEBERANIAN IMAN”: Renungan, Minggu 5 Maret 2023

0
2230

Hari Minggu Prapaskah II (U)

Kej. 12 :1-4a; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9.

Pengalaman yang berkaitan dengan peristiwa yang istimewa memang sungguh memikat. Bahkan hal sedemikian ini membuat kita tetap berada di dalamnya. Kiranya ini adalah hal yang umum terjadi dalam hidup kita. Itu terjadi bukan karena tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, melainkan karena kita seakan-akan berada dalam sebuah kepenuhan hidup. Sabda Tuhan hari ini mengungkapkan juga kisah pengalaman yang sama. Di sini kita dapat merenungkan kembali bagaimana kita mau menghidupi pengalaman sedemikian.

Pertama-tama, lewat pengalaman Abraham yang menanggapi panggilan Allah untuk meninggalkan negerinya sungguh mengungkapkan suatu keberanian iman dan jasmaniah. Itulah karena adanya keharusan menghadapi tantangan alam dan perjalanan yang tak terduga, pun kebenaran suara yang memanggilnya. Namun Abraham tetap berangkat dengan suatu kepastian akan terpenuhinya isi suara tersebut. Kedua, bersama pengalaman Petrus, Yakobus dan Yohanes yang terbuai oleh kenikmatan penampakan kemuliaan di atas gunung. Memang pengalaman itu indah dan memukau. Tetapi Yesus mengajak mereka kembali turun gunung. Ajakan tersebut menjadi gambaran jelas, bahwa manusia harus hidup realistis. Sekalipun harus menghadapi penderitaan; kita harus berani menghadapi dan menjalaninya. Gambaran nyata keberanian dan ketabahan menghadapi penderitaan hidup nampak jelas dalam diri Yesus. Dalam Dia kita memahami arti penderitaan. Jalan kemuliaan Yesus adalah jalan salib dan penderitaan. Peristiwa Abraham dan Kristus menjadi bukti dari kasih tersebut.

Bertolak dari pengalaman-pengalaman sedemikian itu, kita bisa melihat terjadinya hal yang istimewa bagi keselamatan manusia. Rahasia bagi orang-orang yang mampu memaknai penderitaan dan tabah dalam penderitaan adalah mendengarkan suara Allah. Bagi pengikut Yesus, kalimat “Dengarkanlah Dia” (Mat 17:5) menjadi jawaban rahasia menjalani kehidupan ini. Kebahagiaan dan ketabahan menjalani hidup akan menjadi nyata, bila kita mau mendengarkan Dia. Iman, harapan dan kasih akan Yesus Kristus menjadi pilar utama yang menyokong sikap setia kepada Allah. Dengan begitu, setiap pengorbanan yang dilakukan berdasarkan iman, akan mendapatkan arti dan nilai dalam kesatuan dengan penderitaan Yesus sendiri.

Masa Prapaskah ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi kita semua untuk merenungkan dan menghayati kembali arti kasih karunia itu. Dengan menghidupinya kembali, kita diajak untuk menjadi orang yang berani keluar dari kedirian kita untuk masuk dalam perjumpaan dengan dunia kita dan membawa penebusan Kristus ke dalamnya. Itulah yang menjadi tanda keberanian iman kita di masa sekarang ini.

(P. A. Bayu Nuyartanto, Pr)

“Berdirilah, jangan takut!” (Mat. 17:8)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami semakin menyadari akan makna penderitaan baik yang dialami Kristus pun apa yang menjadi bagian hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini