Hari Biasa (H)
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17, 20-21; Mrk. 8:11-13.
Apa tujuan hidup manusia? Apakah hidup dalam kebahagiaan menjadi tolak ukur tertinggi? Tentu saja, iya! Tidak ada manusia yang tidak hidup tanpa kebahagiaan. Baik “membahagiakan” atau “dibahagiakan” secara kodrati, manusia terarah pada tujuan utama yakni hidup bahagia. Dalam konteks eskatologis, bahagia di sini terarah pada kebahagiaan kekal dalam Kerajaan Surga.
Tetapi dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu, kerap manusia ditampar oleh kenyataan bahwa kebahagiaan yang didambakan, tidak sesuai dengan harapan atau keinginan manusia. Sifat cemburu, iri, marah, dan egosentrisme menghantar manusia pada kekecewaan, sedih, frustrasi, depresi bahkan bisa saja bunuh diri. Inilah kejadian yang paling ironis bagi manusia yang tidak merasakan bagaimana kebahagiaan secara utuh dalam hidupnya.
Terbukti dalam Bacaan Pertama pada hari ini, Kain cemburu dan iri sampai membunuh Habel, adik kandungnya sendiri. Membanding-bandingkan adalah alasan Kain membunuh Habel. Kain mau supaya Tuhan mengindahkan persembahannya; mengakui kalau Kain mampu mempersembahkan apa yang baik bagi dirinya. Tetapi standar kebahagiaan Kain bukan terletak pada “memberi” tetapi “tanggapan” atas pemberian itu. Alhasil resep untuk bahagia menjadi palsu karena dinyatakan lewat tanda atau intensi simbolik lewat apresiasi dari Tuhan. Begitu juga yang terdapat dalam Bacaan Injil. Mengapa orang-orang Farisi meminta “tanda lagi” sedangkan sesuai dengan konteks bacaannya, Yesus sudah memberikan tanda lewat “memberi makan empat ribu orang” Orang-orang Farisi meminta tanda karena mereka tidak bersyukur bahwa tanda itu sudah diberikan Allah kepada mereka sebelumnya.
Oleh karena itu, pesan inti yang mau Yesus sampaikan kepada kita hanya satu, Bersyukurlah! Dengan bersyukur, kita tidak lagi mempunyai kesempatan untuk membanding-bandingkan kehidupan seperti Kain; Kita tidak meminta-minta tanda seperti orang Farisi. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang: Nafas hidup, pendidikan, pekerjaan, keluarga, sahabat, kerabat, dan kesejahteraan adalah anugerah yang paling terindah. Jika ingin bahagia, bersyukurlah. Jika sudah bersyukur, kita bahagia dalam menikmati apapun kebutuhan yang Allah berikan kepada kita bukan keinginan pribadi kita. Dengan demikian kita menjadi anak-anaknya yang bahagia, anak-anak yang nantinya menikmati kebahagiaan kekal dalam Kerajaan Surga. Sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat yang melimpah dalam hidup kita setiap hari?
(Fr. Dirros Pugon)
“Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” (Mrk. 8:12)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, ajarilah aku untuk senanriasa bersyukur. Amin











