“Kebebasan yang Sejati”: Renungan, Rabu 8 Februari 2023

0
2044

Hari Biasa (H)

Kej. 2:4b-9, 15-17; Mzm. 104:1-2a, 27-28, 29bc-30; Mrk. 7:14-23

Manusia pada dasarnya menginginkan hidup yang bebas. Dalam setiap langkah hidupnya, manusia senantiasa menginginkan situasi yang bebas, dan tidak mengikat dirinya secara lebih. Hal ini tentu merupakan hal yang wajar, karena manusia diciptakan dengan kehendak bebas dan akal budi. Karena itu, pada hakikatnya, manusia memang terarah kepada kebebasan.

Kebebasan adalah suatu hal yang kadang dinilai bermata dua, atau memiliki dua sisi yang saling bertolak-belakang. Karena itu, kebebasan perlu diarahkan kepada kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam kisah penciptaan di mana Allah menciptakan manusia dan menempatkannya di taman Eden, manusia menerima kebebasan dari Allah. Namun, jika diperhatikan, Allah memberikan kebebasan yang tidak mutlak. Kebebasan itu pada akhirnya tetap dibatasi, di mana Allah melarang manusia memakan buah dari dua pohon yang ada di tengah taman itu.

Bertolak dari kisah itu, kita kemudian dapat melihat bagaimana kebebasan sesungguhnya tidaklah diberikan secara mutlak. Kebebasan perlu tetap berada pada posisi yang tepat. Tindakan Allah yang melarang manusia untuk makan buah dari pohon yang ada di taman Eden bukanlah tindakan yang mengekang kebebasan manusia. Kita semua tahu bahwa akhirnya manusia melanggar perintah untuk tidak makan buah dari pohon itu dan kemudian berdosa kepada Allah. Kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang bukan semata-mata kebebasan yang mutlak, melainkan kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam menggunakan kebebasannya, orang perlu sadar akan adanya batasan yang wajar dari kebebasan itu. Dan hal batasan itu dapat kita ketahui melalui hati kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh orang tidak menajiskannya karena bukan masuk ke dalam hati melainkan ke dalam mulutnya. Sedangkan apa yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya sebab itu semua keluar dari hatinya. Yesus dengan tegas menyatakan bahwa hati adalah unsur yang sangat penting dalam diri manusia, karena dari sana keluar segala yang orang perbuat. Entah itu kejahatan maupun kebaikan semua keluar dari dalam hati orang.

Kebebasan yang sejati perlu didasarkan kepada hati yang bersih, hati yang beriman, dan hati yang dekat dengan Tuhan. Kebebasan yang berangkat dari hati yang bersih, suci dan murni merupakan kebebasan yang sejati yang menghantar orang pada Tuhan, sang Kebaikan sejati. Oleh karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk bisa mengolah hati kita menjadi hati yang bersih, suci dan murni.

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mark.7:15)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk menggunakan kebebasan secara bertanggung-jawab. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini