Hari biasa (H).
BcE Ibr. 10:32-39; Mzm. 37:3-4,5-6,23-24,39-40; Mrk. 4:26-34.
Suatu ketika, ada seorang siswa yang dipandang rendah oleh teman-temannya. Karena dianggap lambat dalam berpikir dan sering dianggap bodoh oleh teman-temannya kelasnya sendiri. Meski demikian, ia tidak menyerah. Dia terus tekun dalam belajar dan selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ketika ujian tiba, ia dengan tenang mengerjakan semua soal ujian itu dengan baik dan bahkan ketika pengumuman lulusan, dia mendapat predikat dengan nilai tertinggi dari semua siswa lainnya, karena itu, semua orang yang dulu menyudutkannya, kini memujinya. Tentu dalam hidup, kita sering mengalami pengalaman yang sama, di mana kita sering direndahkan oleh orang-orang di sekitar kita, karena kekurangan yang kita miliki.
Dalam injil hari ini, mengisahkan perumpamaan tentang benih yang tumbuh dan perumpamaan tentang biji sesawi. Mengajar dengan menggunakan perumpamaan adalah salah satu ciri khas dari Yesus. Yesus menjelaskan tentang kerajaan Allah seperti benih yang di tabur di ladang. Sekalipun terlihat kecil, namun benih itu memiliki potensi dalam dirinya untuk bertumbuh dan menghasilkan buah. Di sisi lain, Yesus juga memberi perumpamaan tentang biji sesawi. Biji sesawi merupakan biji yang amat-sangat kecil namun bisa bertumbuh menjadi pohon yang besar dan rindang. Kedua perumpamaan di atas, hendak disampaikan oleh Yesus untuk menjelaskan potensialitas dari kerajaan surga itu sendiri. Di mana kedua benih ini, tumbuh tanpa campur tangan dari sang penabur, melainkan dari usahanya sendiri untuk bertumbuh dan berkembang. Sebab itu, Yesus ingin agar supaya kita jangan pernah putus asa dalam hidup, tetapi belajarlah dari benih dan biji sesawi. Sekalipun kita direndahkan bahkan tidak dianggap remeh oleh orang-orang di sekitar kita janganlah merasa putus asa, melainkan teruslah berjuang secara tekun dengan segala potensi dalam diri, serta jangan lupa untuk mengandalakan Tuhan dalam hidup. Seperti nasihat kepada orang-orang Ibrani dalam bacaan pertama untuk tetap teguh imannya kepada Tuhan dan tidak putus asa, sekalipun mereka mengalami penderitaan di dunia. Mereka diminta untuk tekun dalam melakukan apa yang baik sesuai dengan kehendak Allah, agar mereka dapat memperoleh apa yang dijanjikan oleh Allah sendiri, yakni kebahagiaan abadi bersama dengan-Nya kelak. Karena itu, janganlah kita takut dan ragu untuk selalu mengembangkan apa yang baik dari dalam diri kita dengan selalu mengandalakan Tuhan, seperti kata pemazmur “Percayalah kepada Tuhan dan lakukan yang baik dan bergembiralah karena Tuhan; maka ia akan memberikan kepadamu apa yang diingikan hatimu”.
Oleh karena itu, marilah kita belajar dari benih sekalipun terlihat kecil namun dapat bertumbuh dan berkembang serta menghasilkan buah bagi sang penabur. Juga, belajarlah dari biji sesawi. Janganlah kita putus asa karena direndahkan, dihina, bahkan mengalami penderitaan sekalipun. Tetapi fokus pada tujuan akhir yang ingin kita capai dengan mengembangkan segala kemampuan dalam dari dalam diri dengan tidak lupa mengandalkan Tuhan agar kita bisa berbuah di dalam-Nya dan buah atau hasil yang kita dapatkan dari usaha kita, bisa menjadi berkat bagi orang lain seperti biji sesawi yang menjadi rumah sekaligus penghidupan bagi burung-burung yang membuat sarang pada ranting-rantingnya.
(Fr. Kristianus Batlayeri)
“Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” (Mrk 4:29)
Marilah berdoa:
Bapa, berkatilah usaha dan kerja kami agar menjadi berkat bagi sesama. Amin.











