Hari biasa (H)
Ibr. 5:1-10; Mzr. 110: 1, 2, 3, 4; Mrk. 2: 18-22
Bertindak tanpa berpikir adalah kesia-siaan belaka. Perkataan ini mengingatkan kita akan sifat keangkuhan kita yang tak berguna. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mempergunakan akal budi secara bijak lewat tindakan dan perbuatan kita sehari-hari.
Penginjil Markus menggambarkan dengan sangat baik tentang hal berpuasa. Ketika Yesus ditanya, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa tetapi murid-murid-Mu tidak”? Yesus menjawab dengan menggunakan tiga perumpamaan. Kunci dari perumpamaan tersebut adalah “Peran Akal Budi”. Pertama: perumpamaan tentang sahabat-sahabat yang bersama-sama dengan mempelai. Apakah mereka harus berpuasa dalam suasana suka cita? Penekanannya bahwa ketika berpuasa hendaklah sejalan dengan konteks dan situasi yang dialami sehingga boleh dihayati secara penuh. Kedua: terkait perumpamaan menambal kain lama dengan baju yang baru. Ketika ada baju yang baru untuk menambal, mengapa harus menggunakan kain lama? Akal budi dalam hal ini menjadi putusan terbaik. Ketiga: perumpamaan tentang anggur yang diletakan dalam kantong yang lama. Mengapa tidak disimpan pada kantong yang baru? Sesungguhnya akal budi manusia menjadi kunci dari tindakan yang dilakukan. Putusan terbaik sesungguhnya sulit bagi manusia untuk menentukan, tetapi jika diputuskan dengan mengandalkan Tuhan maka niscaya itulah yang terbaik.
Bacaan pertama menggambarkan dengan sangat baik peran dari imam besar, yakni mempersembahkan korban demi penebusan dosa. Seringkali manusia jatuh dalam ketidaktahuan yang berujung pada kesesatan. Manusia juga seringkali bertindak sesuka hati yang membawa bencana bagi dirinya sendiri juga bagi orang lain. Pribadi Yesus kemudian tampil sebagai imam dan guru yang benar. Hal ini nampak dalam tindakan dan perbuatan-Nya yang selalu berlandaskan kebenaran dari Allah, dan karena Ia berserah pada campur tangan Allah sehingga Ia mencapai kesempurnaan-Nya, dan menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang. Menarik perkataan Mazmur, “Tongkat kekuatanmu akan diulurkan Tuhan dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu”. Perkataan ini menuntun kita untuk tidak gentar akan perbuatan yang dilakukan. Jika sejalan dengan ajaran-Nya maka lakukanlah.
Allah adalah pangkal pengetahuan, maka hendaklah kita juga mempergunakan pengetahuan yang diberikan itu secara bijak sehingga kita tidak tersesat. Jadikanlah diri kita berarti lewat tindakan dan perbuatan kita, sebagaimana yang dilakukan Yesus dengan hidup taat dan benar.
(Fr. Ubaldus Melsasail)
“Dan sekalipun Ia adalah anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani. 5:8)
Marilah Berdoa:
Ya Allah, terangilah kami dengan rahmat-Mu agar kami mampu berjalan seturut kehendak-Mu. Amin.











