“Dasar Hidup Berkeluarga”: Renungan, Jumat 30 Desember 2022

0
1110

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, Yusuf (P)
Sir. 3:2-6,12-14; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Kol. 3:12-21; Mat. 2:13-15,19-23

Paulus sangat terkenal dengan tulisannya mengenai satu tubuh. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, menjadi satu tubuh membawa konsekuensi bahwa damai Kristus harus menjadi pedoman hidup setiap orang yang merupakan bagian dari Tubuh Kristus. Berarti, setiap orang yang mengambil bagian dalam Tubuh Kristus harus menjadikan damai dan kasih menjadi dasar hidup mereka. Keutamaan-keutamaan kasih haruslah ditanamkan dalam diri setiap orang.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Keluarga menjadi tanda kehadiran Kristus. Kristuslah yang menjadikan seorang pria dan wanita menjadi satu daging. Tanpa Kristus, mustahil untuk membayangkan bagaimana rupa dua daging dijadikan menjadi satu. Oleh karena itu, hanya melalui sakramen sehingga kesatuan daging itu menjadi mungkin. Sakramen perkawinan menandakan bahwa Yesus hadir dalam hubungan sepasang kekasih. Relasi keduanya harus berjalan sesuai keutamaan-keutamaan Si Pemersatu. Yesus menjadi pengikat hubungan mereka.

Yusuf yang diceritakan dalam Injil senantiasa bertindak menurut kehendak Tuhan. Sebagai kepala keluarga, Yusuf membawa Maria dan Yesus dengan menjadikan suara Tuhan menjadi penunjuk jalan keluarga mereka. Sehingga ketaatan Yusuf inilah yang menjadi alasan bahwa Bayi Mungil Yesus bisa selamat dari ancaman pembunuhan Herodes. Yusuf berhasil menyelamatkan anggota keluarganya dari bahaya karena menyertakan Tuhan dalam langkah hidup mereka.

Demikian juga seperti yang diceritakan dalam bacaan pertama, bahwa relasi antara bapa, ibu dan anak haruslah berorientasi pada Tuhan. Tuhan menjadi pusat relasi kehidupan berumahtangga. Paulus pun mengatakan “Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Yesus adalah sumber kasih dan Yesus pulalah yang menjadi Pemersatu pria dan wanita. Oleh karena itu, spirit yang harus dihidupi oleh keluarga atau pasangan suami-isteri haruslah Kristus sendiri. Kasih dan damai Kristus harus hidup dalam diri pasangan suami-isteri. Tanpa Kristus, maka keluarga terancam berantakan.

Oleh karena itu, tidak heran jika ada keluarga yang tidak lagi aktif dalam kehidupan menggereja. Bapa, Ibu, dan anak-anak yang menjauh dari Tuhan dengan cara jarang berdoa, akan kehilangan spirit keluarga itu sendiri. Sehingga jika Si Pemersatu sudah tidak lagi dihiraukan maka keluarga tersebut akan mengarah pada pemisahan. Karena itu, marilah kita senantiasa hidup menjadi keluarga kudus, yang dalam kehidupan berumahtangga selalu menyertakan Kristus sebagai pedoman hidup kita.

(Fr. Andreas Masaroni)

“Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol. 3:14).

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukanlah kami untuk hidup seturut dengan kasihMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini