“Pembawa Sukacita”: Renungan, Senin19 Desember 2022

0
1044

Hak. 13:2-7,24-25a; Mzm. 71:3-4a,5-6ab,16-17; Luk. 1:5-25

Sebagai manusia, kita selalu berjuang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Seberat apapun pekerjaan yang kita lakukan, kita akan berupaya mengerjakannya semaksimal mungkin demi tercapainya kebahagiaan dalam hidup kita. Akan tetapi, tak jarang hal yang kita lakukan telah melenceng dari yang seharusnya sehingga menuntun kita pada perbuatan dosa. Perbuatan jahat tersebut dapat merugikan diri kita sendiri dan mungkin juga orang lain.

Dalam bacaan-bacaan kitab suci hari ini, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang senantiasa mengorbankan diri demi kebahagiaan banyak orang. Dalam bacaan pertama diceritakan tentang kelahiran Simson. Dikisahkan bahwa bangsa Israel terlebih dahulu melakukan perbuatan yang jahat di mata Tuhan sehingga mereka harus menanggung penindasan dari orang Filistin selama empat puluh tahun. Pada akhirnya Tuhan mengutus melaikat-Nya untuk menemui Zara seorang yang mandul dan berfirman kepadanya bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak dan kelak dinamainya Simson. Dalam masa kandungan, Zara diminta untuk memelihara dirinya dari hal-hal yang najis.

Bacaan Injil menceritakan tentang kisah kelahiran Yohanes Pembaptis. Perikop ini berkorelasi dengan bacaan pertama yang mengisahkan bahwa Yohanes dilahirkan dari seorang yang mandul. Tuhan memilih Elisabet karena kehidupannya bersama Zakharia benar di hadapan Allah. Hal ini telah direncanakan oleh Allah sendiri bahwa seorang yang akan mendahuluiNya akan lahir dari seorang yang benar di mata-Nya. Yohanes adalah seorang yang membuat banyak orang berbalik kepada Tuhan.

Dari bacaan-bacaan hari ini, kita dapat melihat Kemahakuasaan Allah dan Kebaikan Hati-Nya bagi umat manusia. Pertama, kita melihat Kemahakuasaan Allah lewat wanita-wanita mandul yang bisa mengandung dan melahirkan. Kedua, walaupun manusia sering jatuh ke dalam dosa, tetapi Allah senantiasa menerima pertobatan manusia. Ketiga, Allah mendatangkan pribadi-pribadi yang setia hidup dalam kebenaran untuk membawa sukacita bagi dunia.

Di masa Adven ini pun kita diingatkan kembali agar tetap menjaga diri kita untuk tidak terikat dengan keinginan duniawi seperti mabuk-mabukan dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Masa ini pun kita dapat mempersiapkan batin kita untuk menyambut Kristus yang menghambakan diri demi kebahagiaan banyak orang. Dengan demikian, kita diajak untuk menjadi pribadi-pribadi yang mampu hidup dalam kebenaran dan mampu membawa sukacita bagi sesama manusia. Dengan sukacita tersebut, kita juga dipanggil untuk memohon senantiasa kekuatan dari Tuhan agar sukacita dapat mengalir bagi sesama walau harus dibayar dengan pengorbanan pribadi.

(Fr. Glandy Yohanes Tambingon)

Marilah berdoa:

Ya Allah, jadikanlah kami pembawa sukacita bagi sesama serta arahkanlah hati kami untuk terus berharap kepada-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini