“Hadiah Sederhana”: Renungan 17 Desember 2022

0
1062

Hari Biasa Khusus Adven

Kej. 49:2,8-10; Mzm. 72:1-2,3-4ab,7-8,17; Mat. 1:1-17.

Di zaman sekarang, terlihat jelas batas-batas sosial antara  kelas-kelas sosial masyarakat. Seseorang yang terlahir dalam kelompok menengah ke atas, atau biasa disebut kaum “berada”, dapat menikmati berbagai fasilitas dan keuntungan karena lahir di keluarga yang memiliki banyak kepunyaan. Di sisi lain jika orang terlahir dalam kelompok menengah ke bawah, atau terlahir dalam keluarga yang miskin, maka dia tidak akan mendapatkan berbagai kemudahan atau privilege seperti yang dirasakan oleh orang yang lahir pada kelas menengah ke atas. Diferensiasi sosial ini tak jarang kemudian menjadi alasan atas keberhasilan ataupun kegagalan seseorang.

Saat ini kita berada dalam penghujung masa Adven. Pada penghujung masa Adven ini, Injil mengisahkan silsilah dari Yesus Kristus. Silsilah ini pun ditulis dengan sangat detail agar dapat menunjukkan bahwa Yesus benar-benar keturunan Daud, dan dari suku Yehuda. Dari daftar keturunan ini tidak semua leluhur Yesus adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi sehingga mampu memperoleh berbagai kemudahan hidup. Begitu juga dengan Yosef ataupun Maria yang tidak memiliki kedudukan tinggi atau kekayaan berlimpah.

Meskipun demikian, Injil menulis bahwa betapa besar rahmat yang boleh mengalir dari keluarga yang sederhana ini. Yesus, yang lahir dalam keluarga Yosef dan Maria, dapat menjadi saluran utama rahmat Allah dalam karya keselamatan seluruh manusia. Maria dalam fiatnya dan Yosef dalam ketulusannya menunjukkan bahwa siapa saja dapat menjadi causa instrumentalia dari rahmat Allah yang melimpah. Syaratnya adalah kita dengan tulus dan dengan iman yang teguh, menyerahkan diri kita sebagai saluran rahmat Allah.

Teladan kesederhanaan inilah yang menjadi gema sukacita kita hari ini. Tuhan memanggil kita untuk berbuat baik sedini mungkin tanpa harus menunggu untuk menjadi seorang yang besar ataupun suci. Dengan keadaan kita saat ini, kita dapat menjadi saluran rahmat Allah bagi sesama di sekitar, di manapun kita berada.

Yesus mengingatkan kita bahwa pribadi kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan menjadi saluran rahmat Allah atau tidak. Dari manapun asal keluarga kita, seburuk apapun atau sebagus apapun garis keturunan dan latar belakang kita, tidak akan mempengaruhi kesempatan kita untuk menjadi saluran rahmat Allah, sekalipun dari hal-hal kecil dan sederhana. Asalkan dilakukan dengan tulus, dan segenap hati, maka kita dapat menjadi saluran rahmat Allah yang luar biasa.  Inilah yang akan menjadi hadiah terindah kita , yang kita persiapkan untuk kelahiran bayi Yesus pada perayaan natal nanti.

 (Fr. Gino Wuisan)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah  aku untuk dapat menjadi saluran rahmat-Mu kepada sesama, kini dan di sini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini