“Bersaksi Tentang Kebenaran”: Renungan, Jumat,16 Desember 2022

0
1415

Hari Biasa Pekan III Adven (U)

Yes. 56:1-3a,6-8; Mzm. 67:2-3,5,7-8; Yoh. 5:33-36

Ketika kita melihat kehidupan sehari-hari, kita akan mengenal berbagai jenis saksi. Ada saksi bisu, saksi yang tidak berbicara kecuali digali, dan lain-lain. Saksi ini bisa menjadi sesuatu yang benar jika ia menggali informasi yang benar. Tetapi saksi bisu bisa menjadi saksi palsu jika ia menggali informasi yang tidak benar atau salah tafsir. Saksi bisu bisa berupa barang mati, tetapi juga bisa manusia hidup yang tidak mau berbicara. Berbicara mengenai saksi berarti berbicara mengenai apa yang terjadi dalam hidup setiap orang. Oleh karena itu, orang yang bersaksi berarti orang yang mengatakan apa yang sebenarnya atau dengan sejujurnya untuk sebuah kebenaran.

Perikop injil pada hari ini mengisahkan tentang kehadiran Yohanes yang hanya dalam waktu singkat. Meskipun demikian, dia telah banyak mengubah arah hidup orang-orang sejamannya kepada kebenaran. Ia menjadi terang yang menuntun mereka yang berada di dalam kegelapan. Demikian yang ditulis oleh Yohanes Rasul mengenai dirinya: “Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu”. Kesaksiaan yang dilakukan Yohanes ini menjelaskan mengenai Anak manusia yang adalah Yesus sendiri. Yohanes mengatakan kesaksian tersebut, yaitu bagaimana ia bersaksi tentang Anak Manusia supaya banyak orang boleh diselamatkan.

Kehadiran Yohanes yang memberikan kesaksian mengenai Yesus dalam waktu singkat boleh menjadi panduan refleksi pribadi terkait kedatangan Kristus yang akan segera dirayakan. Kalau Yohanes, yang hidup dengan waktu yang singkat, bisa menjadi seorang saksi yang mengabarkan tentang Yesus, maka tiap-tiap pribadi yang masih bisa menghirup nafas hingga detik ini kiranya boleh melakukan hal yang sama pula. Kesaksian akan kebenaran yang tidak seharusnya dilakukan dengan menggunakan corong lingkungan pada setiap pagi atau berteriak-teriak tentang Yesus di tengah jalan. Kesaksian yang harus dilakukan ialah melalui tutur kata dan perilaku kita sehari-hari. Kejujuran, keberanian, dan semangat Injil harus ditanamkan dalam hati sehingga mampu terintegrasi di dalam tindakan hidup harian kita. Ketika kita terpanggil untuk melakukannya, maka orang akan melihat bahwa kehidupan kita setiap hari mampu menjadi saksi bagi kehadiran Kristus yang tidak nampak. Dengan kesaksian Kristus tersebut, kita akan menjadi wajah Kristus yang hidup di tengah tatanan dunia saat ini.

(Fr. Luis Sainyakit)

“Tetapi Aku mempunyai kesaksian yang lebih penting dari Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya” (Yoh. 5:36a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sertai dan tuntulah aku sehingga mampu bersaksi tentang kebenaran akan diri-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini