Hari Biasa Pekan III Adven (U)
BcE Bil. 24:2-7, 15-17a; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7c,8-9; Mat. 21:23-27
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita berjumpa dengan orang-orang yang sedang mengajar, mengatur, dan bahkan memerintah. Tidak jarang juga pertanyaan yang serta merta muncul adalah “siapakah dia?”. Pertanyaan ini sesungguhnya tidak saja ingin menjawab rasa keingintahuan akan nama atau identitas sesorang, melainkan lebih dalam dari itu adalah atas kuasa apa sesorang itu mengajar, atas kuasa apa sesorang itu mengatur, atau atas kuasa apa sesorang itu memerintah?
Dalam Etika Politik disebutkan, bahwa ada tiga macam legitimasi. Legitimasi berarti wewenang pemegang kekuasaan untuk menuntut ketaatan. Tiga macam legitimasi itu yakni legitimasi religius, legitimasi eliter, dan legitimasi demokratis. Legitimasi eliter berarti bahwa seseorang memenuhi kualifikasi sebagai pemerintah karena memiliki kualifikasi yang tidak dimiliki semua orang, dan untuk itu dengan sendirinya ia dianggap berhak untuk memerintah. Legitimasi demokratis selalu berdasar pada kedaulatan seluruh rakyat. Kemudian ada legitimasi religius. Bentuk legitimasi inilah yang sesungguhnya dipertanyakan oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
Dalam bacaan injil hari ini, dikisahkan tentang imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang mempertanyakan atas kuasa apa Yesus bertindak, pasalnya Yesus kian giat mengajar di Bait Allah. Bahkan dalam perikop sebelumnya ia juga mengobrak-abrik meja-meja penukar uang dan mengusir orang-orang yang berjual beli di Bait Allah. Tindakan Yesus ini menimbulkan pertanyaan besar bagi imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, yakni atas kuasa apa Ia melakukan semuanya itu?
Kuasa yang dimiliki oleh Yesus sesungguhnya adalah kuasa yang relevan dengan apa yang disebut legitimasi religius, yang mana penguasa tidak dilihat sebagai manusia biasa lagi karena memiliki kekuatan adiduniawi, gaib, ilahi, dan wewenang-Nya sudah tidak dapat diganggu-gugat lagi karena berhakekat adiduniawi.
Sebagai orang-orang beriman akan Kristus Yesus, kita seharusnya menaruh iman sepenuhnnya kepada-Nya. Tidak ada keraguan sedikit pun terhadap kuasa dan ke-Allah-an Yesus. Kita harus mampu menempatkan Yesus di atas segala-galanya. Sering dalam kehidupan sehari-hari manusia kemudian mengutamakan hal-hal yang sifatnya duniawi. Terlebih dalam dunia dewasa ini, orang cenderung fokus pada materi, game, dan hidup berfoya-foya. Manusia menganggap bahwa semua itulah yang mampu membuat hidupnya bahagia.
Pada masa Adven ini baiklah kita semua bertobat, kita menyerahkan diri kita sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi. Kita percaya akan Kristus dan sabda-Nya yang sungguh-sungguh menghidupkan. Dan kita percaya juga bahwa sebuah rancangan keselamatan hidup sedang dikerjakan oleh Allah bagi kita. Agar hidup kita senantiasa dibaharui di dalam Kristus Yesus yang adalah Tuhan.
(Fr. Suprianus Doliti)
Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia tetapi bukan dari dekat (Bil. 24:17)
Marilah berdoa:
Ya Allah, bantulah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk semakin teguh dalam iman akan Yesus Kristus Putra-Mu. Amin.











