“Ia Allah Orang Hidup” : Renungan, Sabtu 19 November 2022

0
1419

Hari Biasa (H)

Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40

Berbicara tentang kehidupan sesudah kematian atau tentang kebangkitan orang mati memang adalah hal yang tidak mudah dijelaskan. Namun hal ini selalu menarik untuk direfleksikan. Tentu juga ini menjadi suatu tantangan bagi orang beriman dalam menjalankan tugas perutusannya di dunia. Sebab ada begitu banyak orang di dunia ini dengan pandangan atau kepercayaan yang dipegangnya masing-masing terkait dengan kebangkitan sesudah kematian.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang seorang wanita yang sampai menikahi tujuh orang bersaudara karena mereka semuanya itu mati dengan tidak meninggalkan anak. Hal ini merupakan ceritera dari orang Saduki untuk sekiranya dapat mempermalukan Yesus, sebab mereka tidak mempercayai tentang kebangkitan orang mati. Sedangkan Yesus percaya akan kebangkitan orang mati dan memberi ajaran tentang  hal itu. Yesus selalu mengajarkan tentang kebenaran sehingga selalu mendapat tantangan dalam pengajaran-Nya. Yesus menolak  pemikiran dari orang Saduki bahwa mereka yang mendapat bagian dalam kebangkitan di antara orang mati tidak lagi kawin dan tidak dikawinkan. “Ia bukan Allah orang mati melainkan Allah orang hidup”. Perkataan Yesus ini hendak menjelaskan perbedaan kehidupan di dunia dan kehidupan sesudah kematian, di mana hanya ada persatuan penuh dengan Allah.

Allah mengutus Yesus ke dunia untuk mewartakan kebenaran supaya orang menjadi percaya dan melaksanakan firman-Nya dan pada akhirnya membawa mereka pada jalan keselamatan. Tentu hal ini tidak mudah untuk dijalankan karena akan ada berbagai tantangan dan halangan yang akan dihadapi. Melalui Injil tadi, Yesus ingin mengajarkan kita dan meneguhkan iman kita supaya tetap bersatu dengan Allah dan melaksanakan kehendak-Nya serta percaya bahwa akan selalu terbuka jalan untuk setiap tantangan dan halangan asalkan kita tidak berputus asa serta teguh dalam iman, harap, dan kasih. Yesus memperlihatkan kepada kita akan realitas kehidupan di dunia, di mana akan ada orang yang menyukai dan membenci kita, atau juga menolak kita dan ingin menjatuhkan kita. Tentu semua itu dapat kita lewati dengan mendekatkan diri pada Allah lewat doa dan melaksanakan apa yang menjadi kehendak-Nya. Dan pada waktunya kita dapat memperoleh Roh kehidupan dari Allah dan bangkit serta bersatu dengan Dia dalam hidup yang kekal.

(Fr. Ferdinan C. Ogi)

 

”Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk. 20: 38).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah selalu iman kami dan jauhkanlah kami dari segala pencobaan yang menyesatkan. Semoga hidup kami juga selalu menjadi tanda akan kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Amin

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini