Hari Biasa (H)
Why. 10:8-11; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Luk. 19:45-48
Rumah-Ku adalah rumah doa. Kalimat ini sangat menarik bagi saya dan juga bagi kita semua. Karena setiap Gereja yang kita diami untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah merupakan suatu tempat yang kudus. Mengapa disebut tempat yang kudus? Karena di dalamnya terdapat Allah yang hadir dalam rupa Tubuh Kristus yang berada di dalam Tabernakel. Selain itu ada juga benda-benda suci dan kudus yakni salib Kristus, dan arca atau patung Bunda Maria serta gambar-gambar suci. Hal-hal ini yang memberikan pengertian kepada kita bahwa Gereja bukanlah tempat berpesta pora atau tempat bermain dan sebagainya, tetapi Gereja merupakan Rumah Tuhan yang patut kita jaga sebagai tempat kita berdoa kepada Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dengan tegas mengatakan kepada orang-orang yang berjualan di Bait Allah kata-Nya, “Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”. Kalau kita lihat di zaman sekarang bukan lagi orang berjualan dalam gereja atau Bait Allah, melainkan sering terdapat orang yang tidak serius untuk berdoa di Rumah Tuhan, tidak serius karena bermain HP, berjalan ke sana-kemari saat Perayaan Ekaristi, dan bahkan ada di antara kita yang belum selesai misa sudah lekas pulang tanpa menerima komuni dan berkat penutup.
Maka dari itu saudara-saudari ku yang terkasih dalam Tuhan, marilah kita menjadikan Rumah Allah menjadi Rumah doa bagi kita. Dengan cara, meninggalkan kesibukan duniawi kita saat berada dalam gereja dan mulai fokus pada Tuhan yang kita imani. Supaya kita juga bisa membangun bait Allah dalam hati kita dan selalu berbuat yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.
(Fr. Huber Laikyer)
“Kata-Nya kepada mereka: ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Luk. 19:46).
Marilah berdoa:
Ya Allah, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu yang selalu terbuka bagi banyak orang, sehingga kami dapat mengamalkan sabda-Mu bagi banyak orang. Amin.











