“Empat Jalan Mengikuti Yesus” : Renungan, Senin 14 November 2022

0
1085

Hari Biasa (H)

BcE Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4b; Luk. 18:35-43.

Dalam keseharian, terkadang kita menerima ajaran iman tanpa usaha lebih untuk memahami iman tersebut. Hal seperti ini memang tidak salah, tetapi model beriman demikian adalah model beriman di mana manusia nampak pasif. Manusia lebih banyak menerima tanpa usaha-usaha yang signifikan. Bacaan hari ini ingin mengajarkan kita untuk lebih aktif dalam beriman, dengan menawarkan empat jalan mengalami Yesus:

Pertama, bertanya tentang Yesus. “Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: apa itu?”. Seperti pengemis buta kita juga harus mampu bertanya tentang Yesus. Bertanya tentang Yesus berarti mencari tahu tentang apa yang diimani sehingga tidak menerima iman begitu saja tetapi memahami apa yang diimani. Misalnya, dengan bertanya kepada pastor atau orang yang lebih tahu. Cara ini mengarahkan kita pada pengetahuan iman yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, pantang menyerah terhadap penolakan. Setelah iman dipahami tentu kita akan berseru kepada Yesus dalam doa dan pergumulan. Namun seruan itu terkadang mendapat penolakan bahkan dari diri sendiri. Misalnya, dalam doa kita memohonkan sesuatu pada Yesus tetapi karena ujud tak kunjung terkabul,  kita putus asa bahkan merasa ujud tak pantas disampaikan. Pengemis buta mengajarkan kita untuk terus meminta kepada Tuhan apa yang kita inginkan. Kita harus terus memanggil Yesus tanpa mempedulikan penolakan. Yesus anak Daud Kasihanilah aku!. Kita berteriak sambil percaya seperti pengemis, bahwa Tuhan mendengar seruan-seruan itu.

Dalam keadaan demikian, point ketiga, penting untuk diperhatikan yakni: percaya pada Yesus. Keyakinan dan kepercayaan  menjadi penting karena akan sangat menentukan dalam semangat untuk menghadapi hambatan dalam beriman. Iman harus teguh seperti pengemis buta, agar dapat sampai pada keselamatan: … Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!.

Setelah mengalami kesematan karena usaha, point terakhir (Keempat) adalah: kesetiaan mengikuti Yesus. Dan seketika itu juga, melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Kesetiaan merupakan bagian penting dalam iman kita akan Yesus. Mengapa? karena sekalipun memahami Yesus dalam hidup tetapi jika tidak disertai tindakan,  maka  kesetiaan terhadap iman menjadi sia-sia. Petrus dan Yudas sama-sama mengalami Yesus dalam hidup, tetapi Petrus pada akhirnya berhasil menyelesaikan perutusan sebagai rasul,  karena kesetiaanya. Akhirnya pertanyaan refleksi yang harus kita renungkan adalah: apakah kita sudah berupaya keras untuk mengalami Yesus dalam hidup? Empat jalan tersebut kiranya membantu kita.

                        (Fr. Alfredo Ngutra)

 …namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud kasihanilah Aku!” (Luk. 18:39b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukanlah kami untuk dapat memahami iman yang Engkau tawarkan dalam injil, supaya kami mampu mempertanggung jawabkan dan mengamalkan dalam hidup. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini