“Wujud Konkret dari Iman”: Renungan, Sabtu 12 November 2022

0
1105

Pw. S. Yosafat, UskMrt (M).

3 Yoh. 1:5-8; Mzm. 112:1-2.3-4.5-6; Luk. 18:1-8; atau RUbys.

Orang-orang Indonesia terkenal dengan sikap ramahnya, suka menjamu tamu, selalu senyum dan suka menolong orang bahkan orang asing sekali pun. Hal itu dapat dilihat dan dirasakan di seluruh pelosok negeri ini. Ketika ada turis mancanegara yang datang, mereka akan disambut dengan senyuman oleh masyarakat. Ada juga mahasiswa KKN datang ke suatu kampung disambut dengan gembira, petugas pastoral yang datang pun demikian, dan banyak momen lainnya yang menggambarkan betapa banyak orang baik. Tidak hanya itu, ketika ada yang tersesat, hilang arah dan tidak tahu jalan untuk menuju tempat yang akan ia tuju, pasti di jalan akan ada orang yang membantu menunjukkan jalan menuju tujuan tersebut. Inilah yang sebenarnya menjadi gambaran ideal orang yang baik dan benar di hadapan Allah.

Rasul Yohanes dalam surat ketiganya menegaskan akan pentingnya menerima para pelayan umat. Pelayan umat menjadi gambaran Allah yang menyelamatkan dan karya-Nya yang nyata. Kehadiran para pelayan yang asing sekali pun menjadi suatu tanda kehadiran Allah di mana melalui mereka Allah dinyatakan. Kesaksian merekalah yang membantu setiap orang untuk mengenal Allah. Sebab barang siapa menerima mereka berarti mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah bagi Dunia. Karya merekalah yang turut mengantar kasih Allah bagi sesama. Kasih itu tidak lagi tersembunyi tetapi tersingkap dalam karya mereka bagi setiap umat beriman dan kepada orang asing sekali pun yang tidak mengenal Allah.

Yesus menegaskan pula bahwa pelayanan merupakan kewajiban setiap orang dan pentingnya sikap penyerahan diri pada kehendak Allah. Pelayanan merupakan hal yang paten dan tidak boleh untuk tidak dilakukan oleh setiap orang. Dalam perumpamaan-Nya, Ia menegaskan mengenai pelayanan itu, melalui gambaran hakim yang lalim yang membela hak seorang janda. Dari situlah, Dia menegaskan betapa pentingnya pelayanan, bahkan orang yang tidak takut akan Allah saja mau menolong dan melayani. Lalu bagaimana dengan setiap orang yang mengenal dan mengatakan dirinya takut Allah?  Seharusnya ia berpikir bahwa ia harus sering untuk menolong orang. Inilah yang ditampilkan Yesus di mana setiap orang telah diberikan anugerah dan karunianya masing-masing serta belajar menjadi rendah hati dan berserah pada kehendak Tuhan. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang meminta kepada-Nya. Namun, apakah ‘saya mau berserah dan memohon kepada-Nya dengan iman, harap dan kasih yang penuh dalam Dia?’ ataukah ‘saya meminta kepada-Nya untuk menagih imbalan karena saya sudah bekerja dalam pelayanan saya?’

Santo Yosafat telah menunjukkan penyerahan dirinya secara total dalam pelayanannya kepada banyak orang dan hidup sucinya bahkan sampai menumpahkan darahnya demi Kristus. Mari belajar dari Yesus serta teladan hidup Santo Yosafat yang selalu berserah pada kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

(Fr. Feighty Sandehang)

“Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi” (Luk. 18:8b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah iman, harap dan kasih kami akan Dikau. Amin

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini