Pw S. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja (P)
BcE Flm. 7-20; Mzm. 146:7,8-9a.9bc-10; Luk. 17:20-25.
Ada suatu kisah tentang keluarga Nyong dan Nona. Bertahun-tahun Nona menahan derita karena kelakuan suaminya yang sering kali mengkhianatinya. Belum lagi sifatnya yang acuh tak acuh dengan keluarga, kasar dan keras terhadap istri dan anak-anak. Entah apa yang merasukinya sehingga pada malam itu, Nyong menangis sejadi-jadinya. Dia berbicara jujur tentang semua yang dilakukannya dan berjanji untuk tidak lagi melakukan hal-hal buruk yang selama ini telah dilakukannya. Nona merasa sangat bahagia, karena apa yang selama ini didoakannya terkabul. Nona merasa bahwa Allah begitu baik. Ia sungguh mengalami dan merasakan kehadiran Allah yang nyata.
Yesus hari ini di dalam Injil berbicara tentang hadirnya Kerajaan Allah, dan Dia sendirilah Kerajaan Allah itu. Dia adalah pintu dan jalan. Dialah awal dan akhir. Kerajaan Allah memang bukan bercorak fisik dan lahiriah apalagi menanti kapan waktunya tiba dengan perhitungan manusia. Sehingga pertanyaan ‘kapan’ waktunya tiba Kerajaan Allah bukanlah yang utama. Yang inti dan utama adalah bagaimana orang mempersiapkan diri untuk menerima Kerajaan Allah. Jadi tidak perlu mencari atau menemukan jalan kebenaran di tempat lain. Intinya, Kerajaan Allah telah hadir dalam diri kita, dalam pengakuan iman kita dan yang mesti terwujud nyata dalam tindakan kita setiap hari.
Hari ini juga kita memperingati Santo Leo Agung. Ia seorang kudus yang berjuang membela iman dan menghadirkan Kerajaan Allah dalam karya penggembalaannya. Ia berusaha mati-matian menentang ajaran-ajaran sesat demi keutuhan iman Gereja. Dia telah menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Yesus yang adalah jalan, kebenaran, dan pintu menuju surga menjadikannya mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini.
Penegasan Yesus dalam Injil sungguh tegas bagi kita. Dia menyatakan bahwa walaupun Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, namun sesungguhnya telah hadir di antara kita dalam pribadi Yesus sendiri. Berbagi kegembiraan dengan orang lain, turut merasakan duka cita dengan mereka yang sedang tertimpa kemalangan adalah sikap-sikap yang menghadirkan Kerajaan Allah. Mengenal dan merasakan Kerajaan Allah tidak cukup hanya dengan doa, tetapi melakukan karya nyata juga adalah tanda hadirinya kerajaan Allah.
(Fr. Steven Baradi)
“Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh Angkatan ini”
(Luk, 17:25).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah aku pewartaan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Amin.











