“Kekudusan Bait Allah”: Renungan, Rabu 9 Novemver 2022

0
1231

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran (P)

BcE Yeh 47:1-2,8-9,12; Mzm 46:2-3,5-6,8-9; 1 Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22

Rumah merupakan tempat untuk beristirahat, tempat untuk berkumpul, tempat bertumbuhnya pendidikan pertama bagi anak-anak dan tempat manusia dapat hidup. Tiada orang di dunia ini yang bisa hidup tanpa rumahnya sendiri. Walaupun tidak memiliki rumah, pada dasarnya manusia tetap membutuhkan tempat untuk berlindung, tempat untuk menyandarkan kepala dan bahu mereka.

Kalau rumah adalah segala-galanya bagi manusia, Gereja Katolik juga menjadikan rumah Tuhan sebagai segala-galanya bagi kemuliaan-Nya. Apalagi pada hari ini Gereja Katolik universal merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, Gereja yang adalah Ibu dari rumah Tuhan yang paling penting nilainya. Gereja menghormati Gereja Basilik Lateran sebagai Katedral dari Uskup Roma.

Berbanding terbalik dengan Bacaan Injil hari ini. Rumah Tuhan kehilangan kesuciannya karena disebabkan oleh para pedagang yang menjual di Bait Allah. Para pedagang menjual lembu, kambing-domba serta merpati sebagai korban bakaran yang seharusnya bukan pada tempatnya. Yesus melihat ketidakberesan itu. Secara manusiawi tentu Yesus marah. Kemarahan ini terungkap ketika Dia menghentikan semua transaksi perdagangan di Bait Allah, dan menghamburkan uang para penukar ke tanah serta dibalikan-Nya meja para pedagang. Yesus sangat marah dan menyuruh mereka untuk pulang.

Pertentangan terjadi. Namun sebagai aktor utama dalam menjaga kesucian Bait Allah, Yesus menantang orang Yahudi dengan berkata, “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Orang-orang Yahudi tercengang kenapa Yesus hanya butuh waktu tiga hari.

Apa pesan penting dari Yesus? Bait Allah di Yerusalem adalah tempat atau sarana yang suci. Tetapi Tubuh Yesus, adalah Bait Allah yang utuh, sarana dimana Allah tinggal dan berkuasa. Yesus mau supaya Bait Allah menjadi kudus; menjadi pusat untuk beribadah dan berkurban serta menjadi tempat kehadiran Allah dan lambang penyaluran berkat bagi manusia yang datang pada-Nya. Yesus ingin pula supaya bait Allah dalam diri setiap manusia selalu kudus. Konsekuensi demikian mengajak manusia untuk membangun dirinya sebagai Bait Allah sejati dengan hidup sesuai roh dan kebenaran yang telah diwahyukan oleh Kristus sendiri. Bait Allah boleh dibongkar, Gereja boleh dimusnahkan, tetapi Bait Allah dalam diri manusia sejatinya harus tetap berdiri kokoh.

Semoga dengan ajakan Yesus ini kita tak lelah menjaga kekudusan Bait Allah yang adalah diri kita sendiri dalam hidup, dengan bersikap dan berperilaku yang suci. Kehendak Yesus menjadi acuan kita untuk menjaga dan memelihara kekudusan diri kita selama-lamanya dan pada akhirnya kita boleh menikmati rahmat dan berkat lewat kesucian yang telah kita bangun dalam diri kita sendiri.

(Fr. Dirros Pugon)

“Jawab Yesus kepada mereka: “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19).

Marilah berdoa:

Tuhan, terangilah pikiranku dan sucikanlah hatiku agar menjadi kudus. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini