“Dandanilah Bagian Dalam!”: Renungan, Selasa 11 Oktober 2022

0
1365

Hari Biasa (H)

Gal. 4:31b – 5:6; Mzm. 119:41,43,44,45,47,48; Luk. 11:37-41.

Kemerdekaan merupakan anugerah dari Tuhan bagi setiap bangsa. Indonesia merupakan salah satu bangsa yang telah merdeka. Kemerdekaan memberikan kebebasasan bagi manusia untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan. Dalam kisah penciptaan, Allah memberikan kepada manusia akal budi. Manusia diciptakan serupa dengan Dia. Di situlah Allah memberikan kebebasan kepada manusia. Dalam lajunya perkembangan zaman manusia semakin bebas berekpresi untuk memajukan kehidupannya.

Namun miris bahwa manusia sekarang banyak menampakkan kemunafikan. Kekeliruan manusia ini sangat tampak di dunia fisik dan dunia maya (media sosial). Manusia berupaya menampilkan sesuatu yang disukai orang lain, sehingga orang lain menilainya baik dan benar, dan bahkan mendapatkan kepercayaan dari mereka. Pada waktu yang sama aktivitas itu melenyapkan kebenaran. Semuanya ditutupi dengan “topeng’/wajah kedua. Fenomena seperti ini yang sedang terjadi di masyarakat sekarang, bahkan seperti sudah tercipta sebuah aturan agar dinilai baik oleh orang lain, maka diri perlu diselimuti dengan topeng.

Kemunafikan mengantarkan manusia pada ketidakbenaran. Kita berada dalam situasi dimana orang mendandani diri dengan kepalsuan dan menyembunyikan realita. Orang-orang seperti inilah yang mencerminkan perbudakan oleh hasrat dan nafsu akan kekuasaan dan kesombongan belaka. Sikap seperti ini kemudian ditentang oleh rasul Paulus. Ia menasehati orang Galatia bahwa oleh karena Kristus orang yang percaya kepada-Nya dimerdekakan. Kemerdekaan itu dilandaskan pada kasih karunia. Dan oleh Roh dan iman semua orang diantarkan kepada kebenaran. Jadi, kemerdekaan yang Tuhan berikan adalah kebenaran. Manusia diberikan kemerdekaan untuk bebas berpikir, berkata, dan bertindak benar.

Dalam bacaan Injil pada hari ini Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena hanya mementingkan apa yang nampak dan mengabaikan yang tidak tampak. Maksudnya adalah orang-orang terkadang mementingkan yang nampak, mendandani diri dengan sikap-sikap yang ada di luar diri. Misalnya menyombongkan diri bahwa saya rajin berdoa ataukah saya adalah orang pintar. Sikap-sikap seperti itu tidak dikehendaki oleh Tuhan. Yang dikehendaki Tuhan adalah bagian dalam diri harus dibina sedemikian rupa. Ketika bagian di dalam dibina dengan baik maka apa yang kita tampakkan di luar lewat pikiran, perkataan dan tindakan mencerminkan iman dan cinta kasih Allah. Dengan begitu maka kemerdekaan yang menuntut kebenaran berasal dari dalam diri yang bersih.

(Fr. Romi Lermatan)

“Hai orang-orang bodoh, bukankah dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?” (Luk. 11:40).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, baharuilah kami dengan Roh Kudus sehingga hati kami menjadi ciptaan yang baru. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini