Hari Minggu Biasa XXVIII (H). E KemSyah.
2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19.
Ada dua mukjizat penyembuhan yang dikisahkan dalam bacaan pertama dan Injil hari ini. Mukjizat dalam Kitab Suci di mana Allah menyembuhkan penderita kusta secara ajaib mungkin bagi kita terasa begitu jauh dan tidak nyata. Namun ada kebenaran hakiki yang hendak diangkat yakni Allah secara nyata memperhatikan manusia. Ada kenyataan mendalam yang menguatkan iman kita bahwa Allah berada di tengah-tengah kita. Pertanyaannya apakah di dunia dewasa ini kita memiliki kesadaran yang lebih akan kehadiran Allah, akan Kuasa Allah, akan kebaikan Allah? Kesadaran inilah yang dimiliki oleh “orang asing” yakni Naaman panglima tentara Siria dan orang Samaria.
Dalam Injil hari ini Yesus berkata : “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Pertanyaan mendasar yaitu mengapa hanya orang Samaria yang kembali untuk memuliakan Allah? Karena kesadarannya yang lebih akan kehadiran Allah yang menyembuhkan dalam diri Yesus Kristus. Dibandingkan dengan kesembilan orang yang tidak kembali meski mereka menyadari telah mengalami kesembuhan dapat dikatakan mereka tidak sampai pada tahap kesadaran yang lebih akan kehadiran dan kuasa Allah dalam diri Yesus sehingga mereka tidak kembali untuk memuliakan Allah. Kesadaran akan kuasa Allah juga diimani dan diamini oleh Naaman panglima tentara Siria yang melalui perantaraan Elisa hamba Allah telah mengalami kesembuhan yang ajaib dari penyakit kusta meski hanya berendam di Sungai Yordan. Dengan demikian, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yakni hanya Sabda Yahwe yang menyembuhkannya. Peristiwa ini membawa Naaman pada kesadaran bahwa Yahwe adalah satu-satunya Allah.
Hari ini dunia modern perlahan-lahan membawa kita pada ketumpulan akan kehadiran dan kebaikan Allah. Manusia tenggelam dalam rutinitas dunia modern yang menarik semua tenaga, pikiran dan tindakan untuk kepuasan sesaat. Dalam kondisi seperti ini, kehidupan beriman sering kali menjadi nomor sekian. Hari ini, sebelum Tuhan Yesus bertanya kepada kita di manakah kesadaranmu, maka sadarlah sendiri. Untuk itu Rasul Paulus mengingatkan Timotius dan kita semua supaya selalu ingat akan Tuhan Yesus Kristus dan memiliki kesadaran yang lebih akan kehadiran, kuasa dan kebaikan Tuhan dalam seluruh kehidupan kita yang akan menghantar pada kesetiaan iman.
(Fr. Damianus Daga)
“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:18)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, anugerahkanlah kepada kami kesadaran yang lebih akan kehadiran-Mu. Amin.











