“Bahagia Dalam Kristus”: Renungan, Sabtu 8 Oktober 2022

0
1162

Hari Biasa (H)

Gal. 3:22-29; Mzm. 105:2-3,4-5,6-7; Luk. 11:27-28.

Kebahagiaan senantiasa terus-menerus dicari-cari oleh orang-orang zaman sekarang. Setiap orang berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan tersebut. Dalam menggapainya setiap orang mempunyai definisi kebahagiaan masing-masing yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena memiliki kekuasaan, ada yang bahagia karena bergelimangkan harta, ada pula yang merasa bahagia karena kesederhanaannya, dan masih banyak definisi kebahagiaan menurut masing-masing orang.

Hari ini Yesus dalam bacaan injil memberikan gambaran tentang kebahagiaan. Ketika seseorang menyatakan ‘Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui engkau’, Yesus tidak menjawabnya dengan kata ya maupun tidak. Ia malah memberikan jawaban yang lain, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya” (Luk. 11:28). Yesus tidak berusaha menyanggah pernyataan wanita tersebut tentang kebahagiaan, melainkan Ia mengajaknya untuk melihat hal yang lebih utama. Kebahagiaan yang diperoleh sebagaimana dinyatakan oleh wanita tersebut nampaknya merupakan kebahagiaan lewat pujian. Menjawab hal tersebut Yesus lantas menunjukkan hal yang lebih penting ketimbang kebahagiaan duniawi yang ditunjukkan oleh wanita tersebut. Kebahagiaan yang dimaksudkan oleh Yesus nyata lewat Sabda Tuhan yang didengarkan sekaligus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika tolak ukur kebahagiaan merupakan kesetiaan dalam mendengar dan melaksanakan sabda Allah, maka semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan tersebut. Akan tetapi justru hal inilah yang kerap diabaikan oleh para pengikut Kristus. Sering kita terlena dengan kebahagiaan duniawi dan berpaling dari kebahagiaan yang sebenarnya. Kita sering kali memilih mengutamakan kepentingan duniawi kita dari pada melihat kebutuhan rohani kita. Kepentingan rohani dianggap hanya suatu kepentingan agama saja bukan menjadi sebuah kebahagiaan sejati.

Mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah lewat Sabda-Nya tersebut merupakan bukti iman kita akan Yesus Kristus. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menegaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang dibenarkan oleh karena iman akan Yesus Kristus. Dengan iman yang sama kita boleh menikmati janji oleh Allah. Sabda Allah yang dimaksudkan tidak lain merupakan Yesus sendiri. Maka, kebahagiaan sejati tersebut sesungguhnya menunjuk pada kedekatan kita dengan Kristus.

Sebagai anak-anak Allah kita percaya bahwa Allah tak akan meninggalkan kita. Ia pasti akan menolong kita dalam upaya menyanggupi kebahagiaan sejati yang dimaksudkan oleh Yesus. Yesuslah Sang Kebahagiaan yang sejati, maka marilah kita mengarahkan diri kepada-Nya dengan setia mendengarkan Firman-Nya dan menjadi para pelaku firman.

(Fr. Wilio Kalesaran)

Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya” (Luk. 11:28).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah kami mengenal dan melaksanakan kehendak-Mu lewat Sabda-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini