“Kekuatan Doa”: Renungan, Rabu 5 Oktober 2022

0
1299

Hari Biasa (H).

Gal. 2:1-2,7-14; Mzm. 117:1,2; Luk. 11:1-4

Doa menjadi nafas rohani seorang Kristen. Doa menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan Allah. Doa yang baik dan benar akan mengarahkan orang Kristen untuk berperilaku sebagai saksi Kristus. Saksi Kristus yang mewartakan kebenaran Sabda Allah dan Kerajaan-Nya, bagi semua orang di muka bumi. Dengan demikian, doa akan mengarahkan orang agar bertindak dan berperilaku dengan meneladan Kristus.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kekuatan sebuah doa yang dapat menguatkan diri kita juga, untuk mewartakan Sabda Allah dan Kerajaan-Nya. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia memberikan kesaksian bahwa dirinya yang dahulu ditakuti oleh orang Kristen termasuk para rasul, pada akhirnya diterima oleh para rasul. Ini berkat kegigihan Rasul Paulus yang sadar akan kebenaran Sabda Allah sehingga turut juga berkarya dan mewartakan kabar gembira yaitu Injil kepada bangsa bukan Yahudi. Rasul Paulus percaya bahwa Allah turut berkarya dalam dirinya dan memberikan kekuatan dan kepercayaan kepadanya untuk mewartakan Sabda Allah. Pengalaman rohani Rasul Paulus dapat diibaratan sebagai sebuah “doa” , di mana ia berbicara dengan Tuhan dan mengalami betapa baiknya karya Tuhan.

Bacaan Injil hari ini pun lebih memperjelas bahwa doa yang baik dan benar harus juga mencakup kepentingan semua pihak. Bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga bagi orang lain. Yesus mengingatkan bahwa ada tiga pokok penting yang harus diucapkan dalam sebuah doa. Pertama, memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Kedua, berdoa untuk diri kita, bagi kemajuan diri kita. Dan ketiga, kita berdoa bagi orang lain, bagi kepentingan banyak orang, seturut kehendak Tuhan. Pada akhirnya, Yesus menginginkan agar murid-murid-Nya harus berlaku taat dan setia kepada kehendak Bapa.

Puncak dari Sabda Yesus yaitu doa menghantarkan orang untuk taat dan setia. Untaian doa yang diucapkan haruslah menghantarkan orang pada ketaatan dan kesetiaan menjalani tugas perutusan yang Yesus amanatkan. Seorang pengikut Kristus janganlah cepat patah semangat dan cepat putus asa. Doa yang Yesus ajarkan, dapat menjadi pegangan agar supaya aspek rohani kita terus menerus dipupuk. Belajar dari Rasul Paulus, kita pun dituntut agar supaya kehidupan rohani kita tidak berakhir dalam diri kita sendiri, melainkan harus kita bagikan kepada orang lain, seperti Rasul Paulus yang setia dan taat mewartakan Injil bagi semua bangsa bukan Yahudi. Semoga kita pun mampu menjadi setia dalam kata, karsa dan karya kita.

(Fr. Christoforus Lontoh)

“Bapa, dikuduskanlah nama-Mu” (Luk. 11:2).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, dengarkanlah doa kami dan tambahkan kesetiaan serta ketaatan kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini