Hari Biasa (H)
Ayb. 9: 1-12, 14-16; Mzm. 88: 10bc-11, 12-13, 14-15; Luk. 9: 57-62
Penginjil Lukas hari ini mengisahkan bagaimana reaksi Yesus terhadap keputusan para murid yang bertekad untuk mengikut-Nya. Dari kisah tersebut terlihat jelas ada tiga poin penting yang perlu untuk direnungkan bersama.
Pertama, pengakuan mengikut Yesus bukan hanya berarti kesediaan mengikuti-Nya, tetapi harus siap menerima semua konsekuensi ketika mengikut-Nya yakni tetap bersikap teguh dan tidak goyah, kendati kenyataan tidak sesuai harapan. Itulah mengapa Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Hal tersebut mau menjelaskan bahwa mengikuti Yesus tidaklah semudah yang diharapkan. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Karena itu, dibutuhkan hati yang teguh dan kokoh demi menjadi pengikut Yesus yang sejati.
Kedua, panggilan mengikut Yesus berarti kesediaan melepaskan diri dari segala keterikatan pada hidup yang lama, menyangkal diri, dan memberi diri bagi pelayanan. Hal ini berarti bahwa mengikuti Yesus harus berani mengatakan “Tidak” terhadap kehidupan dunia yang memiliki pengaruh besar akan panggilan menjadi murid Yesus. Namun sayangnya, saat Yesus memanggil, banyak orang merasa keberatan karena masih terikat pada hidup lamanya. Maka, perlulah pembersihan diri sebelum memutuskan untuk mengikuti Yesus sebagai murid-Nya.
Ketiga, keputusan untuk mengikut Yesus berarti harus bersedia memberi diri, hidup, waktu, tenaga, juga pikiran bagi Tuhan. Ibarat petani yang membajak, ia memfokuskan pandangannya pada tujuan. Ia tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Sebagai pengikut Yesus, kita juga dituntun untuk mampu membuat tujuan hidup. Tujuan hidup tersebut diharapkan dapat dicapai ke depannya. Semuanya dapat terjadi apabila fokus perhatian tidak terbagi atau dengan kata lain, tidak boleh menoleh ke belakang ketika sudah memutuskan untuk maju.
Nah, sebagai pengikut Kristus, kita diharapkan untuk menaruh harapan dan kepercayaan seutuhnya kepada Tuhan. Hal ini terlihat jelas dalam pribadi Ayub. Ia dengan sepenuh hati yakin dan percaya bahwa Tuhanlah sumber segala yang hidup. Dialah yang Mahakuasa. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, apa yang Tuhan lakukan adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah oleh satu orang pun. Inilah keputusan Ayub yakni tidak akan pernah melawan keputusan Tuhan, karena semua itu adalah kebenaran.
Bertolak dari hal-hal tersebut, kita belajar bahwa menjadi pengikut Kristus tidaklah semudah yang dibayangkan. Kita harus siap menerima segala konsekuensi yang ada. Bahkan lebih dari itu kita harus berani menyangkal diri dan hal-hal duniawi demi Kerajaan Allah. Marilah kita belajar untuk mampu menjadi pengikut Kristus yang sejati demi Kerajaan Allah.
(Fr. Blasius Helyanan)
“Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9: 60).
Marilah berdoa:
Tuhan, jadikanlah kami pengikut-Mu yang sejati. Amin











