Hari Minggu Biasa XVI (H)
Kel. 16 :2-4,12-15 ; Mzm. 78 :3,4bc,23-24,25,54 ; Ef.4:17.20-24; Yoh. 6:24-35
“Mereka seperti domba tanpa Gembala”. Itulah ungkapan yang sering terlontarkan ketika melihat sekelompok orang yang tampaknya terabaikan dan tidak jelas apa yang dibuatnya. Suasana itulah yang seringkali menjadi sumber keprihatinan hidup. Secara umum selalu dikatakan bahwa suasana yang ditandai dengan keteraturan dan kejelasan adalah ideal dalam kehidupan manusia, sebagai sebuah hidup “kegembalaan”.
Sabda Tuhan hari ini kiranya mengangkat hal yang sama terkait idealnya kehidupan itu sendiri, sebagai sebuah tanggung jawab. Hal ini ditegaskan dalam bacaan pertama. Lewat nubuat kitab Yeremia dinyatakan bagaimana sebuah tugas dan tanggung jawab yang berkaitan dengan umat Allah dijalankan.
Tugas ini adalah demi menciptakan suatu hidup dalam sebuah kegembalaan yang berlangsung baik, tidak ada yang tercecer dan terabaikan. Karena Allah sendirilah yang menjadi pokok kegembalaan itu. Jelaslah ini adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang besar yang tidak dapat disepelekan.
Dalam surat Rasul Paulus dinyatakan semangat yang sama. Bahwa justru karena kegembalaan Allah lewat Yesus Kristus, kita dapat memperoleh rahmat dan damai sejahtera. Itulah perwujudan hidup kita yang sesungguhnya sebagai putera dan puteri Allah. Hidup itu bukan lagi sebuah cita-cita yang masih harus diperjuangan, namun sesungguhnya merupakan hidup yang konkret dalam buah pendamaian karena Salib Kristus.
Di sinilah kita mengalami kehidupan dalam tuntunan terang dan damai Tuhan. Untuk selanjutnya, tentu kita perlu untuk mengembangkannya lewat segala aktivitas hidup kita. Sebab semua yang “jauh” dan “dekat”, telah dipersatukan oleh Kristus sendiri. Itulah hidup kita yang baru.
Tentu saja kita perlu untuk mengikuti apa yang menjadi teladan Yesus sendiri dalam hal menjalankan hidup kegembalaan itu, yakni dengan menyempatkan diri dalam keheningan di tengah segala kesibukan, layaknya Yesus yang pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan beristirahat. Itulah saat di mana kita memberi kesempatan untuk mendapatkan kekuatan rohani dalam memperhatikan dan merenungkan realitas “kegembalaan” kita.
Hal terpenting dalam mewujudkan hidup “kegembalaan” itu adalah tiadanya aspek-aspek yang terabaikan karena kurangnya perhatian. Hal ini dinyatakan oleh Yesus sendiri lewat apa yang kita kenal sebagai “Hati Yesus yang tergerak oleh belaskasihan”. Gerakan sedemikian hanya dapat muncul jika kita selalu mempunyai waktu untuk merenungkannya dalam keheningan.
Kita semua diajak untuk menyadari bahwa kita adalah manusia baru. Untuk itu, kita perlu hidup sesuai dengan rencana dan kuasa kasih Allah.
(Pst. Bayu Nuyartanto, Pr)
“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35)
Marilah berdoa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjadi gembala yang baik. Amin.











