“Tenang, Jangan Takut dan Percayalah!”: Renungan, Selasa 2 Agustus 2022

0
1452

Hari Biasa (H).

Yer. 30:1-2,12-15,18-22; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Mat. 14:22-36.

Setiap orang ada masa di mana kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, ketidakpercayaan terhadap diri, kecemasan bahkan kepanikan datang dan menghantui diri sendiri. Hal itu semua terjadi dalam waktu yang beragam; ketika menghadapi sakit, ditinggalkan orang yang disayang, jauh dari rumah, kehabisan bahan makanan, keperluan pendidikan yang mahal jangan sampai tidak bisa bayar, ujian akhir, ketakutan akan hari senja nanti, dan banyak hal lainnya. Semuanya itu terjadi ketika setiap orang berada pada perasaan kesepian, merasa ditinggalkan, takut untuk terbuka, merasa diri mampu padahal tidak bisa mengatasi persoalannya, sikap sombong dan angkuh, serta percaya diri yang berlebihan akhirnya mengantar pada kebuntuan pada solusi terhadap masalah yang dihadapi. Namun, kehadiran orang lain dan Tuhan sendiri menjadi jawaban sekaligus solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan dialami saat itu.

Bangsa Yakub yakni Bangsa Israel yang telah berbuat dosa terhadap Allah bahkan melanggar hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan-Nya dikasihani Allah. Allah yang telah memukul bangsa itu tetap dipulihkan-Nya kembali dan dijaga-Nya agar menjadi bangsa yang besar. Hal itu juga kemudian ditampilkan oleh Penginjil Matius melalui Kisah Yesus yang berjalan di atas air di sebuah Danau. Waktu itu setelah peristiwa penggandaan roti dan ikan serta pewartaan Yesus, para murid bertolak ke seberang terlebih dahulu sedang Yesus pergi berdoa seorang diri. Saat itu hari sudah malam, maka Yesus menyusul mereka dengan berjalan di atas air. Inilah yang menjadi tanda di mana kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah dinyatakan. Saat itulah diperlihatkan sosok Petrus yang diajak Yesus berjalan di atas air tetapi perlahan ia mulai tenggelam karena ketakutannya. Namun, Yesus mengasihinya dan menolongnya.

Dalam peristiwa itu, ada tiga hal yang menjadi poin penting yang ditekankan Yesus yakni Tenang, Jangan Takut (Berani), dan Percaya. Pertama, Tenang mengarahkan pada keterarahan pada Dia yang adalah sumber segala sesuatu. Tenang dalam diam bersama-Nya serentak berserah pada kehendak-Nya. Kedua, Jangan Takut yang mana menjadi lanjutan dari tenang itu. Bukan hanya tenang tetapi juga tidak takut. Tidak takut pada kejahatan, tidak takut mengambil risiko untuk mengikuti Tuhan. Ketiga, percaya yang dimaksud ialah berserah dan menyerahkan diri seutuhnya pada penyelenggaraan Tuhan dan yakin bahwa hanya Tuhan-lah yang akan selalu menjaga bahkan badai sekali pun. Maka, mari belajar dari Yesus yang selalu tenang dalam doa, tidak takut menyuarakan kebenaran dan percaya pada kehendak Bapa-Nya. Sebab Ia tahu bahwa hanya melalui Bapa-lah segala terjadi. Demikianlah kita, hendak-Nya senantiasa berserah dan percaya pada Tuhan yang selalu ada untuk kita melalui doa dan keterbukaan pada sesama kita.

Redaksi Lentera Jiwa

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, hadirlah selalu bersama kami dalam doa dan karya kami. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini