Pw S. Alfonsus Maria de Liguori, UskPujG (P)
Yer. 28:1-17; Mzm. 119:29,43,79,80,95,102; Mat. 14:13-21.
Saudara-saudari, manusia terkadang lebih memilih mencari kenyamanan dan tak peduli pada orang lain. Mereka lebih memilih menyenangkan diri mereka tanpa ada simpati terhadap sesama. Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang bagaimana Yesus menjauhi keramaian dan mencari tempat yang sunyi setelah menerima kabar tentang Yohanes Pembaptis yang dibunuh. Walaupun demikian, orang berbondong-bondong mencari Yesus dan meminta agar Ia menyembuhkan mereka dari sakit-penyakit yang diderita. Namun apa yang murid-murid-Nya lakukan? Mereka menyuruh Yesus untuk mengusir orang-orang yang mengikuti itu karena tidak ada makanan yang dapat diberikan kepada mereka.
Saudara-saudarii, apa yang Yesus perbuat ketika mendengar keluhan dari para murid? Kata Yesus kepada mereka, “Kamulah yang harus memberi mereka makan”. Ini merupakan tindakan Yesus yang menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Seperti dalam bacaan injil tadi dikatakan bahwa Yesus ingin menenangkan dirinya sesaat di tempat yang sunyi tapi toh Ia diikuti oleh banyak orang. Sebagai manusia, kita merasa terganggu dan marah. Namun, itu tidak dilakukan oleh Yesus. Malahan, ketika melihat orang banyak itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Betapa besar cinta-Nya kepada manusia sehingga Ia rela berkoraban demi kita. Dengan demikian Yesus akhirnya memberkati lima roti dan dua ikan yang ada pada saat itu lalu membagi-bagikannya kepada semua orang yang hadir di situ.
Dalam bacaan pertama tadi kita dengar Hananya berkata, “Tuhan Allah Israel akan mengembalikan perkakas-perkakas rumah Tuhan dan semua orang buangan dari Babel ke tempat ini”. Namun apa yang dibuat oleh Nabi Yeremia? Ia mengatakan bahwa, semoga Tuhan Allah menepati perkataan-perkataan yang kaunubuati itu. hal ini bukan karena Nabi Yeremia tidak percaya, tetapi ia yakin bahwa apa yang dinubuatkan oleh Hananya itu tidak benar. Dan Tuhan akrinya berfirman kepada Yeremia sehingga apa yang dinubuatkan benar-benar terjadi.
Saudara-saudari, terkadang kita sebagai manusia suka menggunakan nama Allah untuk mencari muka di depan orang, kita sebagai manusia ambisi dan egois. Hal ini yang dilakukan oleh Hananya. Dalam sepuluh perintah Allah di situ tertulis supaya jangan menyebut nama Allah Tuhanmu tidak dengan hormat. Allah akan senantiasa menyerta kita. Oleh karena itu kita harus berdoa kepada-Nya bukan dengan menggunakan namanya untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar.
Oleh karena itu, belajarlah dari Nabi Yeremia, yang tidak ambisi dan selalu mewartakan kebenaran. Teristimewa, kita dapat belajar dari Yesus yang tidak mementingkan diri sendiri dan selalu peduli dan menolong sesama yang menderita serta mengasihi mereka.
(Fr. Victor Helyanan)
“Tidak ada seorangpun, setelah Tuhan, yang mengasihi kita seperti halnya Ibu yang paling pengasih ini” (St. Alfonsus Maria de Liguori)
Marilah berdoa:
Allah Bapa, ajarlah saya untuk dapat membagi kasih kepada sesama tanpa pamrih. Amin.











