“Panggilan Sebagai Anugerah Tuhan”: Renungan, Rabu 20 Juli 2022

0
1171

Hari Biasa (H)

Yer. 1:1,4-10; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mat. 13:1-9. 

Setiap manusia memiliki jalan panggilan hidup yang unik. Ada yang dipanggil demi keamanan negara seperti TNI dan Polisi, ada yang dipanggil untuk menjamin kesehatan dan keselamatan manusia seperti dokter dan para medis, dan ada juga yang dipanggil untuk mengembalakan umat yakni para Imam. Tentunya setiap kita memiliki tugas dan tanggungjawab dalam panggilan hidup kita masing-masing yang harus kita jaga dan pertahankan. Di balik itu apakah kita meyakini tugas dan tanggungjawab yang kita jalani adalah anugerah dari Tuhan?

Bacaan pertama memberikan gambaran akan panggilan Nabi Yeremia. Allah bersabda bahwa sebelum membentuk Yeremia, Ia telah mengenalnya sejak sebelum ia lahir. Hal ini tentu menunjukkan Kemahakuasaan Allah atas manusia. Nabi Yeremia sendiri berkata bahwa ia tidak pandai berbicara dan masih muda. Perkataan Nabi Yeremia ini mau mengungkapkan bahwa ia menyadari kekurangannya. Namun, Allah memanggil kita bukan karena kuat dan hebatnya kita, akan tetapi karena kita menyadari setiap kekurangan kita, dan tetap bersedia untuk dibentuk dan diutus Allah ke mana saja. Jika kita masih mengalami kecemasan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita, yakinlah bahwa segala kekuatiran akan hilang, sebab Allah beserta kita.

Injil hari ini mengisahkan tentang perumpamaan mengenai seorang penabur. Terdapat empat gambaran tentang benih dari seorang penabur. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan dan dimakan habis oleh burung-burung; ada benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu yang tanahnya sedikit; ada benih yang jatuh di semak berduri dan dihimpit semak yang semakin membesar lalu mati; dan ada benih yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah. Di mana, melalui perumpamaan ini, kita diarahkan untuk melihat bagaimana anugerah Tuhan hanya akan tumbuh dan berbuah bagi orang yang mau mendengarkan dan melaksanakan firman-Nya. Anugerah Tuhan tidak diperuntukan bagi mereka yang keras hatinya untuk mendengarkan firman-Nya, serta mereka yang tidak mau melaksanakan firman-Nya.

Dengan demikian, sebagai umat Allah, marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang selalu setia dalam melakukan kehendak-Nya. Kita harus senantiasa percaya akan setiap tugas dan tanggungjawab yang kita jalani sebagai anugerah Tuhan dalam hidup kita, yang mana secara terus-menerus perlu untuk disyukuri.

(Fr. Glandy Yohanes Tambingon)

“Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engaku, demikianlah firman Tuhan (Yer. 1:8).”

Marilah Berdoa:

Ya Allah berikanlah hati yang murni bagi kami untuk mendengarkan firman-Mu dan teguhkanlah bahwa panggilan yang kami jalani adalah anugerah-Mu.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini