PW S. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Yes. 38:1-6,21-22,7-8; Yes. 38:10,11,12abc,16; Mat. 12:1-8
Setiap kehidupan dalam masing-masing pribadi manusia memiliki visi atau tujuan yang sama. Akan tetapi dalam mencapai visi itu, manusia selalu menggunakan misi yang berbeda-beda. Kadang kala misi yang dipakai itu telah mengarakan manusia kepada sesuatu yang bersifat negatif. Mengapa demikian ? Hal ini sejalan dengan suatu paham yang salah bahwa, untuk mencapai suatu kebahagiaan, sebagai visi utama kehidupan, seseorang harus mampu untuk mencapai kekuasaan yang lebih tinggi dari orang lain. Yang mana dalam sudut pandang ekonomi, ia disebut sebagai orang yang kaya atau mapan. Akan tetapi kekuasaan yang dimaksudkan oleh Tuhan adalah sesuatu yang berbeda yang jauh lebih membahagiakan dan mengagumkan bagi manusia, ketika ia mampu mendapatkannya.
Bacaan pertama kita melihat bagaimana kisah Hizkia seorang raja Yehuda, yang pada waktu itu menerima kabar dari nabi Yesaya tentang kematiannya. Pada saat itu ia diminta untuk mengucapkan pesan terakhir kepada keluarganya. Tetapi dengan imannya, ia kemudian berdoa kepada Tuhan untuk diberikan umur panjang, dan Tuhan mengabulkannya. Awal kisah ini telah menunjukkan bahwa walaupun dengan kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh Hizkia sebagai raja, dia belum menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi lewat kuasa Tuhan ia menemukan kebahagiaan dalam hidupnya yakni memberikan keselamatan hidup lagi.
Kuasa yang mengagumkan ini ditegaskan lagi dalam bacaan injil, yang mengisahkan tentang murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari sabat, padahal itu adalah suatu larangan bagi orang Yahudi. Ketika mendapat teguran dari kaum Farisi, Yesus lalu memberikan suatu contoh lain yang dilakukan oleh Daud dan pengikutnya yang makan roti sajian di bait Allah. Kisah ini ingin menunjukkan bahwa kuasa yang dimiliki oleh Yesus, bukanlah kuasa seperti para raja di dalam dunia. Tetapi kuasa itu jauh lebih tinggi. Sehingga ketika kita percaya, tulus dan setia kepada Yesus, maka Ia akan memberikan sebuah kebahagiaan.
Hal itu pula yang dialami oleh St. Bonaventura, di mana ia sendiri dapat memperoleh rahmat yang mengagumkan bukan karena kekuatan yang ia miliki, tetapi karena imannya akan Kristus yang tersalib. Karena itu marilah kita senantiasa percaya akan kuasa Tuhan yang mengagumkan dan dengan tulus dan setia melaksanakan kehendak-Nya.
(Fr. Romaldo Fangohoi)
“Sebab, Anak Manusia adalah Tuhan atas hari sabat” (Mat. 12:8)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, arahkanlah iman kami untuk selalu memperoleh keselamatan yang Engkau janjikan. Amin.











