“Bertahan dalam Iman” : Renungan, Rabu 29 Juni 2022

0
1411

Hari Raya St. Petrus dan Paulus, Ras. (M)

Kis. 12:1-11; 2Tim. 4:6-8, 17-18; Mat. 16:13-19

Seperti setiap lembaga lainnya yang menghormati founding fathers-nya, hari ini Gereja sebagai institusi merayakan pilar pembangunnya. St. Petrus dan St. Paulus dianggap sebagai dua pilar Gereja karena peranan besar yang mereka mainkan dalam pembentukan gereja.

Injil hari ini mengajak kita melihat pengakuan iman Petrus. Diilhami oleh Allah, Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias, Putra dari Allah yang hidup. Sebagai gantinya Yesus membuat tiga pernyataan tentang Petrus. Pertama, Yesus menyatakan bahwa Petrus adalah batu karang dan Dia akan membangun gereja di atasnya. Kedua, Yesus memaklumkan bahwa kerajaan kegelapan tidak pernah dapat mengalahkan Gereja yang dibangun di atas Petrus ini. Ketiga, Yesus menyatakan kepadanya pemeliharaan kunci-kunci kerajaan surga yang menandakan kuasa untuk mengikat dan melepaskan seperti juga untuk memerintah dan mengatur Gereja. Pernyataan-pernyataan ini menjadikan petrus pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja. Sementara dalam bacaan kedua St. Paulus mengungkapkan kepuasan iman yang dengannya dia dapat menunaikan tugas utamanya untuk menginjil kepada orang non-yahudi dan harapannya akan pahala surgawi.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita pelajari dari kehidupan dan teladan dari kedua orang suci ini. Kasih karunia Allah dapat mengubah kelemahan kita. Petrus dan Paulus lemah, Petrus menyangkal Kristus sementara Paulus menganiaya Kristus. Tetapi mereka bekerja sama dengan kasih karunia Allah untuk menjadi besar. Mereka lemah seperti kita, namun kita masih bisa menjadi besar dalam pandangan Allah asalkan mau bekerja sama dengan-Nya. Tidak peduli apa yang mungkin telah kita lakukan di masa lalu, jika kita dengan tulus mengikuti Kristus, niscaya kita akan memperoleh pengampunan dan keselamatan.

Petrus adalah seorang pemimpin yang konservatif dan Paulus seorang pengkhotbah karismatik. Meskipun dituntun oleh roh yang sama, mereka berbeda dalam sikap dan kepribadian tetapi bersatu dalam iman dan tujuan. Kita dapat belajar untuk melampaui perbedaan-perbedaan kita untuk membangun Gereja yang lebih kuat dan lebih bersatu.

Dalam bacaan pertama Petrus dibebaskan berkat doa yang sungguh-sungguh dari Gereja. Dewasa ini, kita juga dapat secara mukjizat dibantu dalam melaksanakan misi kesaksian kita demi Injil melalui perantaraan mereka yang sungguh-sungguh. Ini hendaknya mendorong kita untuk tetap teguh bahkan dalam menghadapi bahaya karena para kudus selalu menjadi perantara bagi kita. Jika Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya seperti dia menyelamatkan St. Petrus dan St. Paulus, maka mahkota kemuliaan yang tidak pudar menanti kita setelah perlombaan di dunia ini. Sebagai orang kristen, tujuan kita hendaknya adalah menerima mahkota kemuliaan yang tidak akan pudar ini pada hari terakhir. Oleh karena itu, sewaktu kita merayakan kedua orang kudus ini, kita tidak akan kehilangan harapan melainkan mendapat berkat kasih karunia Allah jika kita bertahan dalam iman seperti yang mereka lakukan.

(Fr. Yanto Kansil)

“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? (Mat. 16 :15)

Marilah Berdoa
Ya Tuhan bantulah kami supaya setia mengikuti-Mu seperti St. Petrus dan Paulus. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini