“Pengorbanan menuju Kebenaran dan Kebahagiaan sejati”:Renungan Jumat, 3 Juni 2022

0
1299

 Peringatan Wajib S. Karolus Lwanga dkk. Mrt (M).

BcE Kis. 25:13-21: Mzm. 103:1-2,11-12,19-20b; Yoh. 21:15-19.

Manusia dalam hidupnya selalu mencari kebenaran yang dapat memberikan kebahagiaan. Umumnya orang bertanya apakah yang saya lihat, dengar dan alami ini adalah sebuah kebenaran? Pertanyaan ini sangat penting, karena jawabannya menentukan agar orang percaya atau tidak percaya. Lebih tinggi daripada percaya adalah iman. Atas iman itulah orang dituntut sebuah pertanggungjawaban, maka seorang beriman akan membela imannya dengan berbagai konsekuensi yang harus diterima.

Bacaan hari ini mengisahkan tentang rasul Paulus yang dengan penuh iman bersaksi tentang Yesus yang wafat di kayu salib telah bangkit, dan Ia hidup. Seluruh karya Yesus merupakan sebuah karya keselamatan dari Allah bagi manusia. Mereka yang percaya akan diselamatkan dan yang tidak percaya tidak memperoleh keselamatan. Oleh karena kesaksian dan pewartaannya itu, Paulus dituduh oleh imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi bahwa ia mengajarkan sesuatu yang menentang bangsa mereka dan menentang hukum taurat. Maka ia harus diadili. Namun raja Festus yang memerintah pada saat itu tidak menemukan perbuatan jahat yang dilakukan Paulus, sehingga ia tidak dapat menjatuhkan hukuman terhadapnya. Tetapi karena orang Yahudi terus menuntutnya maka Paulus tetap diadili.

Paulus mewartakan sebuah kebenaran tentang Yesus yang membawa keselamatan. Lewat Paulus Tuhan menghendaki agar manusia dapat percaya dan selamat. Sikap Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi atas pewartaan itu menggambarkan orang-orang yang tertutup hatinya oleh keegoisan sehingga selalu menentang yang baik atau kebenaran. Begitu juga raja Festus, oleh karena desakan orang banyak dan khawatir dengan kekuasaannya maka ia tetap mengadili Paulus, kendati ia tahu bahwa Paulus tidak melakukan perbuatan jahat. Sikap raja Festus menggambarkan orang-orang yang tahu tentang kebenaran atau tentang yang baik, tapi tidak mengungkapkan kebenaran dan lebih memilih yang tidak benar dan berbuat jahat. Orang-orang seperti ini menghindarkan diri dari sikap rela berkorban dan menderita.

Orang-orang yang beriman dituntun pada kebenaran sejati yakni Allah. Orang beriman adalah orang yang memberikan dan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan begitu Tuhan akan menuntun kita pada jalan kebenaran. Konsekuensinya seperti yang dikatakan Yesus dalam injil hari ini kepada Petrus bahwa kesetiaannya akan menuntunnya pada sesuatu yang tidak dikehendakinya. Seperti yang ditunjukkan Paulus atau Santo Karolus Lwangan dkk. yang hari ini kita peringati sebagai Martir Uganda. Mereka mewartakan kebenaraan ajaran Yesus dan menentang tindakan asusila dari raja Muanga dan berakhir dihukum mati. Namun tindakan penuh iman itu mengantarkan mereka kepada kebahagiaan abadi. Maka kita orang beriman harus menegakkan kebenaran dan hal baik, kendati dicemoohkan bahkan dibenci dalam masyarakat, kita percaya bahwa Tuhan tetap menyertai kita.

(Fr. Romi Lermatan)

Kebahagiaan sejati merupakan pengorbanan sejati”

Marilah berdoa:

Ya Tuhan tambahkanlah iman kami sehingga kami selalu setia kepada-Mu, sebab kami terus diliputi godaan kenikmatan semata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini